Selamat sore.
Saya
lagi duduk di pinggir jendela, menunggu jingga merekah. Doakan sore ini
tidak mendung ya. Saya mau melanjutkan cerita yang kemarin. Ditemani
lagu Nothing Compares 2 You by Sinead O'Connor.
****
Iya,
setelah melihat Ninja Hijau berduaan dengan pacarnya di kantin sedang
semua siswa sibuk nonton futsal, aku semacam kecewa. Aku cemburu. Dan
itu artinya berbahaya. Bukan bahaya gimana-gimana, tapi bahaya bagi
diriku juga. Aku kelepasan, tidak terkontrol. Atau mungkin memang akunya
yang membiarkan ya?
Entahlah.
Tapi sejak kejadian itu aku jadi ogah-ogahan ngebalas sms si Ninja
Hijau. Nggak lagi gercep atau istilah saat itu gpl, gak pake lama. Dan
seingatku dia juga tidak menyadari hal itu. Aku malas merespon
curhatannya. Pacarnya itu sering, sangat sering, keluar dengan cowok
lain. Saat pacarnya pulang kampung, dia selalu dijemput oleh mantan
pacarnya. Bukannya meminta antar si Ninja Hijau. Sungguh, aku sudah
malas memberi dia semangat atau wejangan lainnya. Dan aku juga jadi
malas bercerita soal hubunganku dengan Mamaku.
Lalu
menjelang Ujian Nasional, kira-kira awal tahun 2007. Awal semester dua
ya? Ninja Hijau putus sama pacarnya. Dan hubungan kami kembali dekat.
Kami bertukar sms lebih intens, bahkan bertukar nomor telepon rumah. Ya,
dia sering menelepon ku. Apakah aku bahagia? Apakah aku senang? Tentu
saja! Itu adalah awal yang bagus. Karena setelah itu akan tercipta
kenangan-kenangan manis dan lucu di antara kita.
Hubungan kami masih sebatas teman sms dan telepon. Itu saja awalnya. Karena dia juga lagi fokus ke Ujian Nasional.
**
Jadi di sekolahku dibagi menjadi 3 jurusan, IPA, IPS dan IPB. Penjurusan dimulai saat kelas XI. Aku menyukai Biologi dan Kimia, lumayan bisa, tapi bodoh dalam Matematika dan Fisika. Aku juga menyukai Sejarah, Antropologi dan Geografi, tapi bodoh soal Ekonomi dan Akutansi. Karenanya aku tidak ingin melanjutkan ke jurusan IPA maupun IPS. Sebaliknya, aku menyukai Bahasa dan Sastra. Karenanya aku ingin melanjutkan ke jurus IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa). Iya, jurusan yang sama dengan Ninja Hijau. Karenanya aku meminta sarannya, karena ternyata penjurusannya pakai ujian segala.
**
Jadi di sekolahku dibagi menjadi 3 jurusan, IPA, IPS dan IPB. Penjurusan dimulai saat kelas XI. Aku menyukai Biologi dan Kimia, lumayan bisa, tapi bodoh dalam Matematika dan Fisika. Aku juga menyukai Sejarah, Antropologi dan Geografi, tapi bodoh soal Ekonomi dan Akutansi. Karenanya aku tidak ingin melanjutkan ke jurusan IPA maupun IPS. Sebaliknya, aku menyukai Bahasa dan Sastra. Karenanya aku ingin melanjutkan ke jurus IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa). Iya, jurusan yang sama dengan Ninja Hijau. Karenanya aku meminta sarannya, karena ternyata penjurusannya pakai ujian segala.
"Tulis IPS sebagai pilihan pertamamu dan IPB pilihan keduamu. Nanti kan kamu ikut ujian IPS tuh, kamu jawab asal-asalan aja soalnya. Yah... 20-30% ajalah jawaban yang bener. Sudah pasti tuh kamu dibuang ke IPB hahahaha."
Itu saranmu padaku. Dan aku laksanakan tanpa keraguan. Dan bener, aku dibuang ke IPB! Hahahaha. Makasih ya. Saranmu jitu.
Lalu di
sekolahku ada pelajaran kesenian yang berfokus pada seni drama atau
teater, dengan gurunya Pak Lenon Machali. Beliau adalah seniman tersohor
asal kotaku. Katanya, nama aslinya hanyalah Machali, tapi karena beliau
sangat mengidolakan John Lennon sehingga teman-teman semasa kuliahnya
memanggilnya Lenon dan nama tersebut pun disematkan di depan nama
aslinya. Beliau sudah meninggal tahun 2016 lalu, karena sakit gagal
ginjal. Beliau dikenang sebagai pribadi yang rendah hati dan berteman
dengan siapa saja dari kalangan muda hingga tua. Senang dan bangga
pernah jadi muridmu, Pak Lenon.
Lalu
tiba pada ujian akhir semester. Ninja Hijau sudah melaksanan Ujian
Nasional, tinggal ujian sekolah dan ujian praktek. Untuk mata pelajaran
Kesenian kelas X, ujian semesternya sedikit berbeda. Kami, para murid,
diwajibkan membentuk kelompok dan mementaskan sebuah drama dan tampil di
aula sekolah. Seingatku aku berkelompok dengan Mitha, Rizkha, Rojak,
Puji, Hafizh. Sama Manda juga nggak ya? Kayaknya iya.
Kami
memainkan drama tentang peri-peri dari suatu kerajaan di langit. Aku
berperan sebagai Peri Keselamatan, di mana si peri ini sendiri tak
pernah selamat dan selalu tertimpa musibah hahahaha. Konyol memang. Tapi
ada yang lebih konyol lagi.
Saat giliranku muncul di panggung, aku melihat sosok Ninja Hijau, dia sedang tiduran di lantai berbantalkan helm-nya,
sendirian tanpa teman se-geng-nya, di tengah-tengah teman sekelasku
yang duduk menonton. Dia acuh dan matanya terus memandangku. Padahal aku
tak pernah memberitahukan padanya soal kapan giliran kelasku akan
tampil. Aku hanya pernah bercerita bahwa aku sedang latihan teater untuk
ujian semester. Dan hal itu membuat tingkat grogiku semakin bertambah.
Dengan dandanan lusuh ala peri yang tidak pernah selamat, hansaplast dan
perban dimana-mana, di muka di sikut. Tapi aku senang, juga bercampur
malu. Aku sangat senang. Terima kasih sudah datang, Kak.
Sepertinya
sejak kejadian itu kami jadi lebih dekat. Ninja Hijau sudah berani
datang ke rumah. Bahkan aku sudah diboncengnya, pergi main ke Surabaya.
Kadang hanya sekedar nongkrong di warteg untuk makan dan merokok
bersama, dia tidak suka masuk Mall dan pusat perbelanjaan. Pernah kami
pergi ke Royal Plaza, sudah parkirnya ribet tapi kami memutuskan untuk
pulang. Waktu itu Royal Plaza masih sepi karena masih baru.
Lalu
setelah lulus SMA Ninja Hijau melanjutkan sekolah perhotelan di
Surabaya, dan dia memutuskan untuk ngekos daripada pulang pergi
Gresik-Surabaya. Awalnya dia ngekos entah di daerah mana, pokoknya dekat
dengan rel kereta. Aku pernah dibawanya ke sana waktu libur kenaikan kelas, dan berkenalan dengan
Aden, teman satu kost dan teman kuliahnya. Katanya dia putra dari pemilik Gudang Garam, dan dia PK sejati.
Hahahaha.
Kemudian pada tanggal 3 Juli 2007, saat aku sedang sarapan pagi dengan semangkuk
indomie soto, tiba-tiba ada sms masuk dari Ninja Hijau, seperti salah
kirim. Sms itu ditujukan untuk Aden, tapi isinya tentangku. Ya, seperti
yang bisa ditebak, Ninja Hijau bermaksud curhat ke Aden bagaimana
caranya buat nembak aku. Karena si Ninja Hijau kepikiran terus
tentangku. Klise ya? Tapi aku hanya murid SMA saat itu, dan hanya pernah
sekali pacaran. Mendapat sms seperti itu dari orang yang aku sukai
sudalah tentu hatiku bagai berpesta. Dan aku jadi tidak mood lagi buat
makan indomie sotonya.
Dengan hati yang berdegup kencang dan kepala pening, aku balas sms-nya itu, "Maksudnya apa, Kak?".
Dan dia pun (mungkin pura-pura) terkejut dan menjelaskan maksud dari
sms salah kirimnya itu. Lalu katanya, karena sudah terlanjur ketahuan,
maka dia pun bertanya di sms, "Lini mau jadi pacarku nggak?".
Entahlah, saat itu aku merasa menjadi manusia paling bahagia di tanggal 3
Juli 2007. Indomie soto aku lupakan. Negara aku lupakan. Aku senang. Akhirnya. Akhirnya. Dan tentu saja tanpa membuang waktu lama aku menjawabnya dengan kata 'mau'. Terima kasih pernah memilihku, Kak.
Ya,
sampai mati akan aku terus ingat kejadian itu, tanggal bulan dan tahun
itu. Sebenarnya banyak hal yang terjadi sebelum kami pacaran, aku
menulisnya di buku harianku. Tapi bukunya aku tinggal di Jawa, karena
aku tidak ingin membawanya serta saat pergi ke Kalimantan. Aku ingin
melupakannya. Tapi aku sadar, seberapa jauh jarak yang kau tempuh karena
ingin melupakan sesuatu, itu hanya sia-sia. Dia akan terus hidup pada
penggalan-penggalan lagu favoritmu, juga pada aroma parfum yang
berkelebat di jalanan. Ngomong-ngomong, masih boleh merindukanmu?