Saturday, March 3, 2018

Si Ninja Hijau: Chapter Three



Selamat sore.
Saya lagi duduk di pinggir jendela, menunggu jingga merekah. Doakan sore ini tidak mendung ya. Saya mau melanjutkan cerita yang kemarin. Ditemani lagu Nothing Compares 2 You by Sinead O'Connor.


****


Iya, setelah melihat Ninja Hijau berduaan dengan pacarnya di kantin sedang semua siswa sibuk nonton futsal, aku semacam kecewa. Aku cemburu. Dan itu artinya berbahaya. Bukan bahaya gimana-gimana, tapi bahaya bagi diriku juga. Aku kelepasan, tidak terkontrol. Atau mungkin memang akunya yang membiarkan ya?

Entahlah. Tapi sejak kejadian itu aku jadi ogah-ogahan ngebalas sms si Ninja Hijau. Nggak lagi gercep atau istilah saat itu gpl, gak pake lama. Dan seingatku dia juga tidak menyadari hal itu. Aku malas merespon curhatannya. Pacarnya itu sering, sangat sering, keluar dengan cowok lain. Saat pacarnya pulang kampung, dia selalu dijemput oleh mantan pacarnya. Bukannya meminta antar si Ninja Hijau. Sungguh, aku sudah malas memberi dia semangat atau wejangan lainnya. Dan aku juga jadi malas bercerita soal hubunganku dengan Mamaku.

Lalu menjelang Ujian Nasional, kira-kira awal tahun 2007. Awal semester dua ya? Ninja Hijau putus sama pacarnya. Dan hubungan kami kembali dekat. Kami bertukar sms lebih intens, bahkan bertukar nomor telepon rumah. Ya, dia sering menelepon ku. Apakah aku bahagia? Apakah aku senang? Tentu saja! Itu adalah awal yang bagus. Karena setelah itu akan tercipta kenangan-kenangan manis dan lucu di antara kita.

Hubungan kami masih sebatas teman sms dan telepon. Itu saja awalnya. Karena dia juga lagi fokus ke Ujian Nasional.


**
Jadi di sekolahku dibagi menjadi 3 jurusan, IPA, IPS dan IPB. Penjurusan dimulai saat kelas XI. Aku menyukai Biologi dan Kimia, lumayan bisa, tapi bodoh dalam Matematika dan Fisika. Aku juga menyukai Sejarah, Antropologi dan Geografi, tapi bodoh soal Ekonomi dan Akutansi. Karenanya aku tidak ingin melanjutkan ke jurusan IPA maupun IPS. Sebaliknya, aku menyukai Bahasa dan Sastra. Karenanya aku ingin melanjutkan ke jurus IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa). Iya, jurusan yang sama dengan Ninja Hijau. Karenanya aku meminta sarannya, karena ternyata penjurusannya pakai ujian segala.

"Tulis IPS sebagai pilihan pertamamu dan IPB pilihan keduamu. Nanti kan kamu ikut ujian IPS tuh, kamu jawab asal-asalan aja soalnya. Yah... 20-30% ajalah jawaban yang bener. Sudah pasti tuh kamu dibuang ke IPB hahahaha."

Itu saranmu padaku. Dan aku laksanakan tanpa keraguan. Dan bener, aku dibuang ke IPB! Hahahaha. Makasih ya. Saranmu jitu.

Lalu di sekolahku ada pelajaran kesenian yang berfokus pada seni drama atau teater, dengan gurunya Pak Lenon Machali. Beliau adalah seniman tersohor asal kotaku. Katanya, nama aslinya hanyalah Machali, tapi karena beliau sangat mengidolakan John Lennon sehingga teman-teman semasa kuliahnya memanggilnya Lenon dan nama tersebut pun disematkan di depan nama aslinya. Beliau sudah meninggal tahun 2016 lalu, karena sakit gagal ginjal. Beliau dikenang sebagai pribadi yang rendah hati dan berteman dengan siapa saja dari kalangan muda hingga tua. Senang dan bangga pernah jadi muridmu, Pak Lenon.

Lalu tiba pada ujian akhir semester. Ninja Hijau sudah melaksanan Ujian Nasional, tinggal ujian sekolah dan ujian praktek. Untuk mata pelajaran Kesenian kelas X, ujian semesternya sedikit berbeda. Kami, para murid, diwajibkan membentuk kelompok dan mementaskan sebuah drama dan tampil di aula sekolah. Seingatku aku berkelompok dengan Mitha, Rizkha, Rojak, Puji, Hafizh. Sama Manda juga nggak ya? Kayaknya iya.

Kami memainkan drama tentang peri-peri dari suatu kerajaan di langit. Aku berperan sebagai Peri Keselamatan, di mana si peri ini sendiri tak pernah selamat dan selalu tertimpa musibah hahahaha. Konyol memang. Tapi ada yang lebih konyol lagi.

Saat giliranku muncul di panggung, aku melihat sosok Ninja Hijau, dia sedang tiduran di lantai berbantalkan helm-nya, sendirian tanpa teman se-geng-nya, di tengah-tengah teman sekelasku yang duduk menonton. Dia acuh dan matanya terus memandangku. Padahal aku tak pernah memberitahukan padanya soal kapan giliran kelasku akan tampil. Aku hanya pernah bercerita bahwa aku sedang latihan teater untuk ujian semester. Dan hal itu membuat tingkat grogiku semakin bertambah. Dengan dandanan lusuh ala peri yang tidak pernah selamat, hansaplast dan perban dimana-mana, di muka di sikut. Tapi aku senang, juga bercampur malu. Aku sangat senang. Terima kasih sudah datang, Kak.

Sepertinya sejak kejadian itu kami jadi lebih dekat. Ninja Hijau sudah berani datang ke rumah. Bahkan aku sudah diboncengnya, pergi main ke Surabaya. Kadang hanya sekedar nongkrong di warteg untuk makan dan merokok bersama, dia tidak suka masuk Mall dan pusat perbelanjaan. Pernah kami pergi ke Royal Plaza, sudah parkirnya ribet tapi kami memutuskan untuk pulang. Waktu itu Royal Plaza masih sepi karena masih baru.

Lalu setelah lulus SMA Ninja Hijau melanjutkan sekolah perhotelan di Surabaya, dan dia memutuskan untuk ngekos daripada pulang pergi Gresik-Surabaya. Awalnya dia ngekos entah di daerah mana, pokoknya dekat dengan rel kereta. Aku pernah dibawanya ke sana waktu libur kenaikan kelas, dan berkenalan dengan Aden, teman satu kost dan teman kuliahnya. Katanya dia putra dari pemilik Gudang Garam, dan dia PK sejati. Hahahaha. 

Kemudian pada tanggal 3 Juli 2007, saat aku sedang sarapan pagi dengan semangkuk indomie soto, tiba-tiba ada sms masuk dari Ninja Hijau, seperti salah kirim. Sms itu ditujukan untuk Aden, tapi isinya tentangku. Ya, seperti yang bisa ditebak, Ninja Hijau bermaksud curhat ke Aden bagaimana caranya buat nembak aku. Karena si Ninja Hijau kepikiran terus tentangku. Klise ya? Tapi aku hanya murid SMA saat itu, dan hanya pernah sekali pacaran. Mendapat sms seperti itu dari orang yang aku sukai sudalah tentu hatiku bagai berpesta. Dan aku jadi tidak mood lagi buat makan indomie sotonya.

Dengan hati yang berdegup kencang dan kepala pening, aku balas sms-nya itu, "Maksudnya apa, Kak?". Dan dia pun (mungkin pura-pura) terkejut dan menjelaskan maksud dari sms salah kirimnya itu. Lalu katanya, karena sudah terlanjur ketahuan, maka dia pun bertanya di sms, "Lini mau jadi pacarku nggak?". Entahlah, saat itu aku merasa menjadi manusia paling bahagia di tanggal 3 Juli 2007. Indomie soto aku lupakan. Negara aku lupakan. Aku senang. Akhirnya. Akhirnya. Dan tentu saja tanpa membuang waktu lama aku menjawabnya dengan kata 'mau'. Terima kasih pernah memilihku, Kak.

Ya, sampai mati akan aku terus ingat kejadian itu, tanggal bulan dan tahun itu. Sebenarnya banyak hal yang terjadi sebelum kami pacaran, aku menulisnya di buku harianku. Tapi bukunya aku tinggal di Jawa, karena aku tidak ingin membawanya serta saat pergi ke Kalimantan. Aku ingin melupakannya. Tapi aku sadar, seberapa jauh jarak yang kau tempuh karena ingin melupakan sesuatu, itu hanya sia-sia. Dia akan terus hidup pada penggalan-penggalan lagu favoritmu, juga pada aroma parfum yang berkelebat di jalanan. Ngomong-ngomong, masih boleh merindukanmu?

A Short Trip To Nostalgic

      If I have money and some days off, I prefer go to somewhere than go home. No, it's not because I don't miss my home and my fa...