-->
Jam 7 tadi pagi aku baru bangun. Kebangun soalnya nyokap telpon. Ku pikir alarm yang bunyi, kok libur-libur gini pasang alarm. Rajin amat. Tapi, telponnya bikin aku nangis. Aku bukan lagi dimarahi. Tapi.. dia memperhatikanku. Dari seminggu kemaren tenggorokanku emang agak bermasalah. Suaraku jadi sengau mirip nenek-nenek. Tapi nyokap ngiranya aku nangis.
Hal yang buat aku nangis: nyokap itu emang yang paling bener meskipun kebenarannya gak pernah ku suka. Apapun yang dikatakannya di awal pasti bener di belakangnya. Dan keputusan yang selalu ku ambil itu salah. Dan aku baru nyadar di akhir.
Bokap nggak mau ngirim duit. Setauku bokap nggak pernah gitu. Aku nyangkanya si istri muda yang bales sms ku. Tapi.. bener ya, kalau manusia itu berubah. Bokap berubah. BERUBAH.
Apa dia lupa kalo dia itu orang yang paling khawatir waktu aku sakit dan sakitnya cuma sakit panas.
Apa dia lupa waktu aku masih kecil dulu aku nangis mulu nggak diem-diem meski dia udah gendong aku di punggung dan ngajak aku jalan-jalan keliling kampung, dibeliin permen lollipop yang bentuk kaki kesukaanku (ini malem-malem).
Apa dia lupa waktu tulang pergelangan tanganku patah dia bela-belain bawa aku ke sangkal putung di daerah mana ituh aku lupa, Surabaya pokoknya. Siang - siang, panas, lagi puasa pula. Mantep dah.. Dan akhirnya kita berdua berbuka puasa duluan minum es campur yang segernya wahhh!!
Apa dia lupa waktu aku merengek di beliin crayon pas dia baru pulang kerja. Terus sepulang dari memenuhi hasratku terhadap crayon vespa kesayangannya diserempet orang, kakiku lecet, dan dia hampir jatuh.
Apa dia lupa semuanya itu? APA DIA LUPA? Lalu hal apa yang membuatnya lupa? Karena aku sudah besar dan tidak membutuhkan perhatiannya lagi?? OMONG KOSONG!
Wanita yang di sampingnya itu
Hei, apa salahku? Kenapa kau menjauhkanku dari papaku?
Apa aku pernah menjauhkanmu darinya?
Kau iri padaku?
Dia cuma tua bangka, apa hebatnya hingga menarik perhatianmu?
Aku rela kau yang ada di sampingnya, aku rela.
Aku tak cemburu, tak iri. Lalu apa salahku?
Hal yang buat aku nangis: nyokap itu emang yang paling bener meskipun kebenarannya gak pernah ku suka. Apapun yang dikatakannya di awal pasti bener di belakangnya. Dan keputusan yang selalu ku ambil itu salah. Dan aku baru nyadar di akhir.
Bokap nggak mau ngirim duit. Setauku bokap nggak pernah gitu. Aku nyangkanya si istri muda yang bales sms ku. Tapi.. bener ya, kalau manusia itu berubah. Bokap berubah. BERUBAH.
Apa dia lupa kalo dia itu orang yang paling khawatir waktu aku sakit dan sakitnya cuma sakit panas.
Apa dia lupa waktu aku masih kecil dulu aku nangis mulu nggak diem-diem meski dia udah gendong aku di punggung dan ngajak aku jalan-jalan keliling kampung, dibeliin permen lollipop yang bentuk kaki kesukaanku (ini malem-malem).
Apa dia lupa waktu tulang pergelangan tanganku patah dia bela-belain bawa aku ke sangkal putung di daerah mana ituh aku lupa, Surabaya pokoknya. Siang - siang, panas, lagi puasa pula. Mantep dah.. Dan akhirnya kita berdua berbuka puasa duluan minum es campur yang segernya wahhh!!
Apa dia lupa waktu aku merengek di beliin crayon pas dia baru pulang kerja. Terus sepulang dari memenuhi hasratku terhadap crayon vespa kesayangannya diserempet orang, kakiku lecet, dan dia hampir jatuh.
Apa dia lupa semuanya itu? APA DIA LUPA? Lalu hal apa yang membuatnya lupa? Karena aku sudah besar dan tidak membutuhkan perhatiannya lagi?? OMONG KOSONG!
Wanita yang di sampingnya itu
Hei, apa salahku? Kenapa kau menjauhkanku dari papaku?
Apa aku pernah menjauhkanmu darinya?
Kau iri padaku?
Dia cuma tua bangka, apa hebatnya hingga menarik perhatianmu?
Aku rela kau yang ada di sampingnya, aku rela.
Aku tak cemburu, tak iri. Lalu apa salahku?