Thursday, June 14, 2018

Undur Diri by Penagenic



Catatan: Ah, tak perlu memberi banyak catatan pada puisi ini. Silakan menikmatinya dengan caramu.


***
 
Akhirnya kata-kata menuntun kita menemukan pagi. Puas… kita bermain di beranda sangsi. Tiba saatnya aku undur diri.

Memugar prasangka berlumut, meniupkan wangi dari gumaman doa-doa baik. Memberinya sedepa jarak, sebagai garis tepi, untuk kita yang sepenuhnya masih digenggam oleh takdir.

Aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak pernah mampu kutulis. Cukuplah kita, menjadi sebait kata semoga yang lupa, bahagia yang penuh umpama, atau sepasang barangkali yang belum tentu diamini.
Saling kejar hanya membuat kita hilang nalar.

Cinta bukanlah kokoh tembok kota yang setia dikencingi anjing, atau ranting-ranting kering yang tabah menghadapi musim. Ia adalah sakit yang tak kunjung sembuh atau justru kecewa yang berulang kali kambuh.

Segala yang datang dan pergi, akan terus berlari meski dengan sepatu yang tak bertali.
Sebelum senja dan malam beralih peran, dengan mata yang masih basah aku akan pulang.

Seperti ada yang melubangi dada, kata dan tawa yang biasa meramaikan cuaca di malam hari, telah kita paksa menyerahkan diri.
Sederet kalimat yang nyaris beku akan menjadi jawaban dari pertanyaan hening bisu, yang belum tentu bisa datang setiap waktu.

Kelak, ketika musim penghujan tiba akan kubuatkan kau puisi yang tak melibatkan kata-kata susah.
Agar kau bisa membacanya sambil berselimut, menghangatkan pelukan dari belakang yang berulang kali aku janjikan. Berkhayal melihat senja, melihat lampu kota yang mulai menyala. Atau berbincang tentang apa saja yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya.

Kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dengan diam, ternyata waktu tak terlalu sabar untuk menghidangi kita sebuah pelukan.
Seperti lirih bisikan gerimis yang menyamarkan jejak.
Jika musim-musim ke depan tak memberiku pilihan, akupun bersiap diri menjadi perihal yang layak kau lupakan.


Lebaran Kali Ini


Halo.
Lagi dinas sore di malam takbiran kali ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada yang istimewa. Atau mungkin aku sudah lupa seperti apa yang istimewa.

Bukan, bukan aku mengeluhkan. Terima kasih Tuhan tetap aku ucapkan, terima kasih masih diberi waktu, terima kasih masih dipertemukan dengan orang-orang yang baik.

Rasanya selalu ingin memutar waktu ke masa itu, masa-masa tak punya tapi masih lengkap semua. Masa-masa di mana yang aku tahu hanya bermain belaka.

Aku tidak ingin memiliki bila hanya untuk kehilangan, Tuhan. Biarkan aku yang hilang, itu saja. Tapi aku belum mau mati. Bagaimana ini? Merepotkan ya?


Tuesday, June 12, 2018

Distraction; Gerhana (Falling)


Layaknya menulis, jatuh cinta juga membutuhkan inspirasi. Bukan inspirasi untuk memanipulasi atau mengarang bebas soal diri yang kini. Tapi inspirasi untuk membuka hati yang telah lama ditutup erat, inspirasi untuk percaya kembali pada dongeng cinta sejati.

Begitulah aku saat ini.

Kata-kata ajaibnya serta nasehatnya mampu mengetuk dinding kokoh yang selama ini aku bangun dengan dalih sudah lelah, jengah dan ingin sendiri sampai mati. Dia hanya mengetuk tanpa menghancurkan, sama sekali tidak ada paksaan. Aku sendiri yang membukakan pintu untuknya, dan membiarkan diriku merasakan kembali masa muda yang dia bawa. Membiarkan diriku terbawa arus cinta yang dia tawarkan untukku. Tolong jangan besar kepala lalu tergoda untuk hancurkan harapku!

Mungkin ini sedikit gila dengan selisih usia di antara kita. Tapi kembali lagi ke kalimat ajaibnya, "Kenapa toh? Umur 27 baper gara-gara umur 19? Sah sah aja selama masih beda kelamin."

Aku yang seumur gini bisa-bisanya kemakan omongan seperti itu. Bukan puisi yang dia berikan untuk meyakinkan, bukan lagu romantis yang dilagukan untuk menyenangkan, seperti kebanyakan lagu yang dinyanyikan mereka yang sebelumnya untukku. Tapi lagu Siti Badriyah yang Syantik atau Via Vallen yang berjudul Ditinggal Rabi. Bukan tipeku, tapi berhasil buatku tersenyum geli mendengarnya hehehehe.

Dia, seseorang yang dengan senang hati aku bongkar isi kepala dan masa laluku. Marah tentu saja. Tapi dia berusaha menerima. Juga rela meninggalkan kekasihnya, demi aku yang jauh di utara dengan segala ketakutan akan dunia dan prinsip hidup yang aku tanam gegara muaknya aku terhadap suatu hubungan.

Aku tau, sebagai seseorang yang waras dan menganggap bahwa diri ini adalah manusia dewasa, tidak seharusnya aku menanggapi perhatianmu karena waktumu masih panjang, kamu belum merasakan bagaimana bebasnya usia 20an. Aku ingin memberimu kesempatan untuk bertemu banyak cinta dan merasakan luka. Tapi kamu tidak memerlukan itu, bukan?

Sekali lagi, akupun lupa kapan awal mula aku terbawa suasana. Aku lupa sejak kapan aku mulai menikmati waktu yang kau luangkan untukku. Aku lupa bagaimana aku bisa tersenyum mendengar teriakan kekanakanmu saat bermain game dengan logat Palembangmu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa terhanyut oleh suaramu yang dalam ketika kita berbicara soal perasaan di tengah malam. 

Intinya, seperti yang sudah pernah aku katakan, aku ingin berterima kasih pada Semesta karena sudah mempertemukan kita pada jarak yang sulit dipangkas ini, yang mana malah membuat kita semakin dekat dan nyaman. Aku ingin berterima kasih pada Semesta karena sudah menyisakan pria tidak normal sepertimu untukku. Terima kasih sudah berusaha untuk memahami duniaku yang aneh ini. Terima kasih sudah mau menyayangi mbak mbak yang bulet dan bontet ini. But please remember it, Once I'm falling in love, I will love hard. Tolong beri tahu jika kedatanganmu hanya untuk mampir dan bermain-main, dengan begitu aku akan menyiapkan diri untuk melupakan.

Gerhana, entah bulan entah matahari, bagiku kini kau ruang dan waktuku, semesta yang selalu aku tunggu bahkan di tengah tidurku. Cam kan itu. Dan terserah mau kau apakan perasaanku.


A Short Trip To Nostalgic

      If I have money and some days off, I prefer go to somewhere than go home. No, it's not because I don't miss my home and my fa...