Catatan: Ah, tak perlu memberi banyak catatan pada puisi ini. Silakan menikmatinya dengan caramu.
***
Akhirnya kata-kata menuntun kita menemukan pagi.
Puas… kita bermain di beranda sangsi. Tiba saatnya aku undur diri.
Memugar prasangka berlumut, meniupkan wangi dari gumaman doa-doa baik. Memberinya sedepa jarak, sebagai garis tepi, untuk kita yang sepenuhnya masih digenggam oleh takdir.
Memugar prasangka berlumut, meniupkan wangi dari gumaman doa-doa baik. Memberinya sedepa jarak, sebagai garis tepi, untuk kita yang sepenuhnya masih digenggam oleh takdir.
Aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak pernah mampu kutulis. Cukuplah kita, menjadi sebait kata semoga yang lupa, bahagia yang penuh umpama, atau sepasang barangkali yang belum tentu diamini.
Saling kejar hanya membuat kita hilang nalar.
Cinta bukanlah kokoh tembok kota yang setia dikencingi anjing, atau ranting-ranting kering yang tabah menghadapi musim. Ia adalah sakit yang tak kunjung sembuh atau justru kecewa yang berulang kali kambuh.
Segala yang datang dan pergi, akan terus berlari meski dengan sepatu yang tak bertali.
Sebelum senja dan malam beralih peran, dengan mata yang masih basah aku akan pulang.
Seperti ada yang melubangi dada, kata dan tawa yang biasa meramaikan cuaca di malam hari, telah kita paksa menyerahkan diri.
Sederet kalimat yang nyaris beku akan menjadi jawaban dari pertanyaan hening
bisu, yang belum tentu bisa datang setiap waktu.
Kelak, ketika musim penghujan tiba akan kubuatkan kau puisi yang tak melibatkan kata-kata susah.
Kelak, ketika musim penghujan tiba akan kubuatkan kau puisi yang tak melibatkan kata-kata susah.
Agar kau bisa membacanya sambil berselimut, menghangatkan pelukan dari belakang
yang berulang kali aku janjikan. Berkhayal melihat senja, melihat lampu kota
yang mulai menyala. Atau berbincang tentang apa saja yang belum pernah kita
bicarakan sebelumnya.
Kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dengan diam, ternyata waktu tak terlalu sabar untuk menghidangi kita sebuah pelukan.
Kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dengan diam, ternyata waktu tak terlalu sabar untuk menghidangi kita sebuah pelukan.
Seperti lirih bisikan gerimis yang menyamarkan jejak.
Jika musim-musim ke depan tak memberiku pilihan, akupun bersiap diri menjadi perihal yang layak kau lupakan.
Jika musim-musim ke depan tak memberiku pilihan, akupun bersiap diri menjadi perihal yang layak kau lupakan.
No comments:
Post a Comment