Friday, July 20, 2018

A Game Remains as A Game






I tend to do stupid things when I fall in love, just as when I'm heartbroken. So I need to calm down my self before I write something to you, so I will not write stupid words like what I did on previous post.

I’m gonna write something to you, little boy. Other thing that I wish it can reach you. I will try to not look like I’m in misery or sounds like romantic fiction.

Kamu pernah nonton Trilogy Before? Before Sunrise, Before Sunset dan Before Midnight? You have to watch it. Recommended. Ada satu dialog di film Before Sunset yang aku suka. Celine, karakter wanitanya bilang gini:

“Little things. I think it’s the same with people. I see in them little details, so specific to each of them, that move me, and that I miss, and.. will always miss. You can never replace anyone, because everyone is made of such beautiful specific details.”


Paham nggak? XD

That’s why I never can get over the past. I always miss those details of you, of them. How bad my ex-boyfriends hurted me, sometimes when I lay down on my bed at night I’m digging up those details until I fall asleep.

And lately, I always thinking of your details. The sound of your laugh, the way you put aside your alay-poni, the way you look at me when we video calling, the way you sing your silly song, the way you told me to get sleep or to take a bath cause it’s time to work for living. I really miss those 2 am conversation between us, I miss to hear your laugh, I miss to hear you sing Iwan Fals’s songs, and I miss the moment when you mocking me about how noob I am on playing game.

Aku sudah berusaha untuk menahan diri, mencoba untuk tau diri, and I’ve told to you that you can’t say those words to a woman. Then it’s happening. I’m twenty seven, soon to be twenty eight, has fell in love with someone younger than me. It’s the craziest thing that I’ve ever done. Nggak masuk di akal hahaha.

I've told to you about my fear, about what I’m gonna do in this life, about weird things that stay in my head, about the stupid things that I did in the past. Aku sudah menelanjangi kepalaku ke kamu, dimana hal tersebut nggak bisa aku lakukan ke yang lainnya. Because I’m believing you, wish you will bring the light and walk with me to get through this darkness of mine. I know, silly thought.

But like I’ve told to you before, I hate to hope. It damages me if it’s not go the way I planned. You’re the last person that make me hope. It’s been long time before I met you, I stop hoping, I stop wishing, I stop praying. I’m just go with the flow. But why do I have this feeling? You're about to mess up my entire life x’D

But it’s okay now. Time solves most things. And I believe the time will solve mine like how it used to be. Be happy, stay healthy. Have a great life. Have fun with everything you’re gonna do. I wish you good luck everyday, bastard.


Thursday, June 14, 2018

Undur Diri by Penagenic



Catatan: Ah, tak perlu memberi banyak catatan pada puisi ini. Silakan menikmatinya dengan caramu.


***
 
Akhirnya kata-kata menuntun kita menemukan pagi. Puas… kita bermain di beranda sangsi. Tiba saatnya aku undur diri.

Memugar prasangka berlumut, meniupkan wangi dari gumaman doa-doa baik. Memberinya sedepa jarak, sebagai garis tepi, untuk kita yang sepenuhnya masih digenggam oleh takdir.

Aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak pernah mampu kutulis. Cukuplah kita, menjadi sebait kata semoga yang lupa, bahagia yang penuh umpama, atau sepasang barangkali yang belum tentu diamini.
Saling kejar hanya membuat kita hilang nalar.

Cinta bukanlah kokoh tembok kota yang setia dikencingi anjing, atau ranting-ranting kering yang tabah menghadapi musim. Ia adalah sakit yang tak kunjung sembuh atau justru kecewa yang berulang kali kambuh.

Segala yang datang dan pergi, akan terus berlari meski dengan sepatu yang tak bertali.
Sebelum senja dan malam beralih peran, dengan mata yang masih basah aku akan pulang.

Seperti ada yang melubangi dada, kata dan tawa yang biasa meramaikan cuaca di malam hari, telah kita paksa menyerahkan diri.
Sederet kalimat yang nyaris beku akan menjadi jawaban dari pertanyaan hening bisu, yang belum tentu bisa datang setiap waktu.

Kelak, ketika musim penghujan tiba akan kubuatkan kau puisi yang tak melibatkan kata-kata susah.
Agar kau bisa membacanya sambil berselimut, menghangatkan pelukan dari belakang yang berulang kali aku janjikan. Berkhayal melihat senja, melihat lampu kota yang mulai menyala. Atau berbincang tentang apa saja yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya.

Kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dengan diam, ternyata waktu tak terlalu sabar untuk menghidangi kita sebuah pelukan.
Seperti lirih bisikan gerimis yang menyamarkan jejak.
Jika musim-musim ke depan tak memberiku pilihan, akupun bersiap diri menjadi perihal yang layak kau lupakan.


Lebaran Kali Ini


Halo.
Lagi dinas sore di malam takbiran kali ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada yang istimewa. Atau mungkin aku sudah lupa seperti apa yang istimewa.

Bukan, bukan aku mengeluhkan. Terima kasih Tuhan tetap aku ucapkan, terima kasih masih diberi waktu, terima kasih masih dipertemukan dengan orang-orang yang baik.

Rasanya selalu ingin memutar waktu ke masa itu, masa-masa tak punya tapi masih lengkap semua. Masa-masa di mana yang aku tahu hanya bermain belaka.

Aku tidak ingin memiliki bila hanya untuk kehilangan, Tuhan. Biarkan aku yang hilang, itu saja. Tapi aku belum mau mati. Bagaimana ini? Merepotkan ya?


Tuesday, June 12, 2018

Distraction; Gerhana (Falling)


Layaknya menulis, jatuh cinta juga membutuhkan inspirasi. Bukan inspirasi untuk memanipulasi atau mengarang bebas soal diri yang kini. Tapi inspirasi untuk membuka hati yang telah lama ditutup erat, inspirasi untuk percaya kembali pada dongeng cinta sejati.

Begitulah aku saat ini.

Kata-kata ajaibnya serta nasehatnya mampu mengetuk dinding kokoh yang selama ini aku bangun dengan dalih sudah lelah, jengah dan ingin sendiri sampai mati. Dia hanya mengetuk tanpa menghancurkan, sama sekali tidak ada paksaan. Aku sendiri yang membukakan pintu untuknya, dan membiarkan diriku merasakan kembali masa muda yang dia bawa. Membiarkan diriku terbawa arus cinta yang dia tawarkan untukku. Tolong jangan besar kepala lalu tergoda untuk hancurkan harapku!

Mungkin ini sedikit gila dengan selisih usia di antara kita. Tapi kembali lagi ke kalimat ajaibnya, "Kenapa toh? Umur 27 baper gara-gara umur 19? Sah sah aja selama masih beda kelamin."

Aku yang seumur gini bisa-bisanya kemakan omongan seperti itu. Bukan puisi yang dia berikan untuk meyakinkan, bukan lagu romantis yang dilagukan untuk menyenangkan, seperti kebanyakan lagu yang dinyanyikan mereka yang sebelumnya untukku. Tapi lagu Siti Badriyah yang Syantik atau Via Vallen yang berjudul Ditinggal Rabi. Bukan tipeku, tapi berhasil buatku tersenyum geli mendengarnya hehehehe.

Dia, seseorang yang dengan senang hati aku bongkar isi kepala dan masa laluku. Marah tentu saja. Tapi dia berusaha menerima. Juga rela meninggalkan kekasihnya, demi aku yang jauh di utara dengan segala ketakutan akan dunia dan prinsip hidup yang aku tanam gegara muaknya aku terhadap suatu hubungan.

Aku tau, sebagai seseorang yang waras dan menganggap bahwa diri ini adalah manusia dewasa, tidak seharusnya aku menanggapi perhatianmu karena waktumu masih panjang, kamu belum merasakan bagaimana bebasnya usia 20an. Aku ingin memberimu kesempatan untuk bertemu banyak cinta dan merasakan luka. Tapi kamu tidak memerlukan itu, bukan?

Sekali lagi, akupun lupa kapan awal mula aku terbawa suasana. Aku lupa sejak kapan aku mulai menikmati waktu yang kau luangkan untukku. Aku lupa bagaimana aku bisa tersenyum mendengar teriakan kekanakanmu saat bermain game dengan logat Palembangmu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa terhanyut oleh suaramu yang dalam ketika kita berbicara soal perasaan di tengah malam. 

Intinya, seperti yang sudah pernah aku katakan, aku ingin berterima kasih pada Semesta karena sudah mempertemukan kita pada jarak yang sulit dipangkas ini, yang mana malah membuat kita semakin dekat dan nyaman. Aku ingin berterima kasih pada Semesta karena sudah menyisakan pria tidak normal sepertimu untukku. Terima kasih sudah berusaha untuk memahami duniaku yang aneh ini. Terima kasih sudah mau menyayangi mbak mbak yang bulet dan bontet ini. But please remember it, Once I'm falling in love, I will love hard. Tolong beri tahu jika kedatanganmu hanya untuk mampir dan bermain-main, dengan begitu aku akan menyiapkan diri untuk melupakan.

Gerhana, entah bulan entah matahari, bagiku kini kau ruang dan waktuku, semesta yang selalu aku tunggu bahkan di tengah tidurku. Cam kan itu. Dan terserah mau kau apakan perasaanku.


Monday, May 28, 2018

Kingdom Craft and Criza




Semesta sungguh lucu dan ajaib. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Apa yang tidak mungkin bagi semesta?

Berawal dari sebuah iklan game yang lewat pada game yang aku mainkan. Iklannya seperti game Tekken, game bertarung gitu. Aku tidak pernah kalah kalau main game itu. Tanpa pikir panjang langsung aku install dan aku mainkan. Awalnya agak aneh, kok tidak ada pertarungan seperti Tekken. Hanya seperti game yang membangun sebuah kerajaan dan menyusun pasukan. Kampret! Tapi game-nya lumayan seru dan visualisasi hero-nya bagus hahaha. 

Dan, karena kurangnya pengalaman terhadap game seperti ini, aku jadi sembarang klik, dan bergabunglah aku dengan aliansi yang bernama Ozz. Leadernya orang Vietnam, tapi ada beberapa yang orang Indonesia. Aliansi itu termasuk baru dan terkendala pada bahasa. Aku nggak bisa bahasa Vietnam euy! Orang Vietnam-nya nggak bisa bahasa Inggris ;(

Lalu suatu ketika aliansi kami diserang oleh kastil bernama fort dan criza. Kami bermaksud melakukan serangan balasan tapi power kami jauh di bawah mereka. Karena nggak mau mati sia-sia akhirnya titik koordinat lokasi fort dan criza hanya kami tandai sebagai enemy

Tak lama kastil dan plot resource ku diserang oleh kastil bernama TOBOALI. Karena saking kurangnya pengalaman dan tersulut emosi aku langsung melakukan serangan balik. Bodoh banget.. pasukanku banyak yang mati hahahaha. Lalu si Tobo mengirim pesan nanya kabar pasukanku. Ngehina banget ini orang. Setelah itu dia mengajakku untuk join dengan aliansi Indo Hunter yang disingkat IHT, tempatnya anak Indonesia berkumpul. Ya aku ikut joinlah disitu.

Masih newbie dan noob, jadi nanya apa-apa di chat aliansi pun dicuekin. Lagipula masih dikira nick-ku yang Thranduil ini aslinya laki-laki, malah makin dicuekin pula aku. Thranduil is not famous, maybe Legolas is. Lalu leader aliansi IHT mengirim pesan ke kami semua untuk bergabung di grup WA, untuk berjaga-jaga kalau ada yang menyerang kastil kita dan berbagi informasi lainnya. Lalu aku kasih nomorku ke leader. Ya seperti biasanya, aku hanya seorang silent reader. Hanya membaca dan menyerap informasi, nanya toh dicuekin.

Lalu keesokan harinya ada yang mengirim pesan di game. Dari criza. Kok rasanya nggak asing dengan nama itu. Dia nanya apa aku sudah gabung grup WA, apa namaku yang Lini Hanilia? Ya aku jawab sudah, masih dengan gaya laki-laki. Hey, I'm good at being a boy. Dia nanya lagi, nomorku yang mana? Ya aku jawab yang belakangnya 9037. Masih dengan gaya laki-laki tentunya. Lalu dia nanya lagi, cewek kan? Ya aku jawab apa adanya. And he looks like he just found an oasis on the dessert. Dari situlah kami mulai mengobrol, kami mengobrol via discord. Hampir tiap malam telponan. Seperti sekarang ini, ngobrol nggak jelas.

Nama aslinya Gerhana (aku ketawa pas tau nama aslinya, maap maap) anak Palembang, kuliah jurusan D3 Akutansi di Universitas Sriwijaya. Ya ya ya, dia kelahiran 1999. Damn! Perasaan akhir akhir ini laki-laki di sekitarku brondong semua. Nggak Eky, nggak Putra. Dan ini selisih umurnya nggak nanggung nanggung lho, nggak 1-2 tahun. Tapi 8 tahun. Hahahahanjir.

Sedang berusaha untuk tidak baper. He deserves someone better, and so I am. Tapi aku sudah jengah dengan yang namanya laki-laki dan pernikahan. Mari kita jadikan teman ngobrol saja.

He's not my type at all. Dia nggak suka baca, sukanya lagu-lagu melayu macam Kangen Band. Pernah dia nyanyi dari band Adista. Buset! Baru tau ada nama band Adista. Dia nggak tahu Hulk Hogans. Alasannya, memang penting buat tau siapa Hulk Hogans? Ya nggak juga sih, tau Hulk Hogans juga nggak bikin dosa kita berkurang kan ya. Tau Hulk Hogans juga nggak bikin hidup kita bahagia atau sengsara. Ya nggak penting buat tau siapa Hulk Hogans.

But, I love his voice, so gentle yet annoying. I love how he scold me and intimidating me, just because I'm stupid at this fuckin' game. Yet he have respect on me, protecting me on the game. Tapi lebih sering dimarahnya, dioloknya aku oon. Kan kampret!

Seperti biasanya, aku suka klik klik sembarangan. Lalu aku nemu sebuah pemberitahuan bahwa fort dan criza bukan lagi enemy ku dikarenakan aku pindah aliansi. Lho lho lho, tuh kan semesta itu ajaib. Ini anak pernah nyerang aliansiku yang dulu. Aku nanya dia tapi dianya lupa. Saking banyaknya kastil yang dia serang :')

Masih ngobrol sampai jam setengah empat pagi. Ngobrol banyak malam ini. Dia curhat soal pacarnya, aku curhat soal bangganya aku yang mutusin kamu gara-gara perkara tanggung jawab. Hahahaha.

Yah.. aku tau. Cepat atau lambat ini harus berakhir. Tapi belum tau harus dia duluan yang pergi atau aku duluan. Tapi sepertinya memang harus aku yang pergi duluan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Saturday, March 3, 2018

Si Ninja Hijau: Chapter Three



Selamat sore.
Saya lagi duduk di pinggir jendela, menunggu jingga merekah. Doakan sore ini tidak mendung ya. Saya mau melanjutkan cerita yang kemarin. Ditemani lagu Nothing Compares 2 You by Sinead O'Connor.


****


Iya, setelah melihat Ninja Hijau berduaan dengan pacarnya di kantin sedang semua siswa sibuk nonton futsal, aku semacam kecewa. Aku cemburu. Dan itu artinya berbahaya. Bukan bahaya gimana-gimana, tapi bahaya bagi diriku juga. Aku kelepasan, tidak terkontrol. Atau mungkin memang akunya yang membiarkan ya?

Entahlah. Tapi sejak kejadian itu aku jadi ogah-ogahan ngebalas sms si Ninja Hijau. Nggak lagi gercep atau istilah saat itu gpl, gak pake lama. Dan seingatku dia juga tidak menyadari hal itu. Aku malas merespon curhatannya. Pacarnya itu sering, sangat sering, keluar dengan cowok lain. Saat pacarnya pulang kampung, dia selalu dijemput oleh mantan pacarnya. Bukannya meminta antar si Ninja Hijau. Sungguh, aku sudah malas memberi dia semangat atau wejangan lainnya. Dan aku juga jadi malas bercerita soal hubunganku dengan Mamaku.

Lalu menjelang Ujian Nasional, kira-kira awal tahun 2007. Awal semester dua ya? Ninja Hijau putus sama pacarnya. Dan hubungan kami kembali dekat. Kami bertukar sms lebih intens, bahkan bertukar nomor telepon rumah. Ya, dia sering menelepon ku. Apakah aku bahagia? Apakah aku senang? Tentu saja! Itu adalah awal yang bagus. Karena setelah itu akan tercipta kenangan-kenangan manis dan lucu di antara kita.

Hubungan kami masih sebatas teman sms dan telepon. Itu saja awalnya. Karena dia juga lagi fokus ke Ujian Nasional.


**
Jadi di sekolahku dibagi menjadi 3 jurusan, IPA, IPS dan IPB. Penjurusan dimulai saat kelas XI. Aku menyukai Biologi dan Kimia, lumayan bisa, tapi bodoh dalam Matematika dan Fisika. Aku juga menyukai Sejarah, Antropologi dan Geografi, tapi bodoh soal Ekonomi dan Akutansi. Karenanya aku tidak ingin melanjutkan ke jurusan IPA maupun IPS. Sebaliknya, aku menyukai Bahasa dan Sastra. Karenanya aku ingin melanjutkan ke jurus IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa). Iya, jurusan yang sama dengan Ninja Hijau. Karenanya aku meminta sarannya, karena ternyata penjurusannya pakai ujian segala.

"Tulis IPS sebagai pilihan pertamamu dan IPB pilihan keduamu. Nanti kan kamu ikut ujian IPS tuh, kamu jawab asal-asalan aja soalnya. Yah... 20-30% ajalah jawaban yang bener. Sudah pasti tuh kamu dibuang ke IPB hahahaha."

Itu saranmu padaku. Dan aku laksanakan tanpa keraguan. Dan bener, aku dibuang ke IPB! Hahahaha. Makasih ya. Saranmu jitu.

Lalu di sekolahku ada pelajaran kesenian yang berfokus pada seni drama atau teater, dengan gurunya Pak Lenon Machali. Beliau adalah seniman tersohor asal kotaku. Katanya, nama aslinya hanyalah Machali, tapi karena beliau sangat mengidolakan John Lennon sehingga teman-teman semasa kuliahnya memanggilnya Lenon dan nama tersebut pun disematkan di depan nama aslinya. Beliau sudah meninggal tahun 2016 lalu, karena sakit gagal ginjal. Beliau dikenang sebagai pribadi yang rendah hati dan berteman dengan siapa saja dari kalangan muda hingga tua. Senang dan bangga pernah jadi muridmu, Pak Lenon.

Lalu tiba pada ujian akhir semester. Ninja Hijau sudah melaksanan Ujian Nasional, tinggal ujian sekolah dan ujian praktek. Untuk mata pelajaran Kesenian kelas X, ujian semesternya sedikit berbeda. Kami, para murid, diwajibkan membentuk kelompok dan mementaskan sebuah drama dan tampil di aula sekolah. Seingatku aku berkelompok dengan Mitha, Rizkha, Rojak, Puji, Hafizh. Sama Manda juga nggak ya? Kayaknya iya.

Kami memainkan drama tentang peri-peri dari suatu kerajaan di langit. Aku berperan sebagai Peri Keselamatan, di mana si peri ini sendiri tak pernah selamat dan selalu tertimpa musibah hahahaha. Konyol memang. Tapi ada yang lebih konyol lagi.

Saat giliranku muncul di panggung, aku melihat sosok Ninja Hijau, dia sedang tiduran di lantai berbantalkan helm-nya, sendirian tanpa teman se-geng-nya, di tengah-tengah teman sekelasku yang duduk menonton. Dia acuh dan matanya terus memandangku. Padahal aku tak pernah memberitahukan padanya soal kapan giliran kelasku akan tampil. Aku hanya pernah bercerita bahwa aku sedang latihan teater untuk ujian semester. Dan hal itu membuat tingkat grogiku semakin bertambah. Dengan dandanan lusuh ala peri yang tidak pernah selamat, hansaplast dan perban dimana-mana, di muka di sikut. Tapi aku senang, juga bercampur malu. Aku sangat senang. Terima kasih sudah datang, Kak.

Sepertinya sejak kejadian itu kami jadi lebih dekat. Ninja Hijau sudah berani datang ke rumah. Bahkan aku sudah diboncengnya, pergi main ke Surabaya. Kadang hanya sekedar nongkrong di warteg untuk makan dan merokok bersama, dia tidak suka masuk Mall dan pusat perbelanjaan. Pernah kami pergi ke Royal Plaza, sudah parkirnya ribet tapi kami memutuskan untuk pulang. Waktu itu Royal Plaza masih sepi karena masih baru.

Lalu setelah lulus SMA Ninja Hijau melanjutkan sekolah perhotelan di Surabaya, dan dia memutuskan untuk ngekos daripada pulang pergi Gresik-Surabaya. Awalnya dia ngekos entah di daerah mana, pokoknya dekat dengan rel kereta. Aku pernah dibawanya ke sana waktu libur kenaikan kelas, dan berkenalan dengan Aden, teman satu kost dan teman kuliahnya. Katanya dia putra dari pemilik Gudang Garam, dan dia PK sejati. Hahahaha. 

Kemudian pada tanggal 3 Juli 2007, saat aku sedang sarapan pagi dengan semangkuk indomie soto, tiba-tiba ada sms masuk dari Ninja Hijau, seperti salah kirim. Sms itu ditujukan untuk Aden, tapi isinya tentangku. Ya, seperti yang bisa ditebak, Ninja Hijau bermaksud curhat ke Aden bagaimana caranya buat nembak aku. Karena si Ninja Hijau kepikiran terus tentangku. Klise ya? Tapi aku hanya murid SMA saat itu, dan hanya pernah sekali pacaran. Mendapat sms seperti itu dari orang yang aku sukai sudalah tentu hatiku bagai berpesta. Dan aku jadi tidak mood lagi buat makan indomie sotonya.

Dengan hati yang berdegup kencang dan kepala pening, aku balas sms-nya itu, "Maksudnya apa, Kak?". Dan dia pun (mungkin pura-pura) terkejut dan menjelaskan maksud dari sms salah kirimnya itu. Lalu katanya, karena sudah terlanjur ketahuan, maka dia pun bertanya di sms, "Lini mau jadi pacarku nggak?". Entahlah, saat itu aku merasa menjadi manusia paling bahagia di tanggal 3 Juli 2007. Indomie soto aku lupakan. Negara aku lupakan. Aku senang. Akhirnya. Akhirnya. Dan tentu saja tanpa membuang waktu lama aku menjawabnya dengan kata 'mau'. Terima kasih pernah memilihku, Kak.

Ya, sampai mati akan aku terus ingat kejadian itu, tanggal bulan dan tahun itu. Sebenarnya banyak hal yang terjadi sebelum kami pacaran, aku menulisnya di buku harianku. Tapi bukunya aku tinggal di Jawa, karena aku tidak ingin membawanya serta saat pergi ke Kalimantan. Aku ingin melupakannya. Tapi aku sadar, seberapa jauh jarak yang kau tempuh karena ingin melupakan sesuatu, itu hanya sia-sia. Dia akan terus hidup pada penggalan-penggalan lagu favoritmu, juga pada aroma parfum yang berkelebat di jalanan. Ngomong-ngomong, masih boleh merindukanmu?

Tuesday, February 27, 2018

Si Ninja Hijau: Chapter Two



Sekarang ini waktu menunjukkan pukul 14:42 WITA. Mirip empat digit terakhir nomor ponselmu ya? Hahaha. Masih sama atau sudah ganti nomor ponsel? 

Aku masih di kantor. Sebentar lagi pulang. Seharian sepi banget dan koneksi internet sebentar-sebentar putus, jadinya males nge-back up data tamu hahahaha. Lalu ngapain seharian? Ya nge-back up data tamu sambil mainan HP, sama foto kue, foto kembang, makan sama ketawa. Jadi mari kita lanjut cerita kemarin. Tapi bentar, aku lanjut sesampai di rumah ya.


***

Waktu menunjukkan adzan Maghrib. Aku belum mandi, nanti aja. Aku sambil dengerin lagu Slank, Yang Manis, yang pernah dia peruntukkan padaku, dulu.

Iya, aku gugup nggak karuan setelah ketahuan. Awalnya, aku balas email mu pura-pura nggak tahu menahu. Namun pada akhirnya aku mengaku juga bahwa aku mengagumi dirimu. Tapi setelah hari itu, berada di sekolah tidak senyaman dulu. Rasanya ingin berubah jadi sekecil debu karena takut bila melihat sosokmu. Pergi ke toilet, pergi ke kantin rasanya jadi tidak nyaman. Padahal ya dirimu nggak tahu wujudku seperti apa.

Entah kenapa kok kamu nggak menganggapku aneh dan annoying, malah terus meladeni email ku. Tidak ada satupun email ku yang kamu abaikan, meskipun lama balasnya tapi aku senaaaaaang sekali! Ah.. rasanya ingin membuka kembali email sekolah membaca satu persatu pembicaraan kita. Apa masih bisa diakses ya?

Oya, setalah ketahuan itu aku sama dia berhubungan lewat email sekolah, bukan lewat email yahoo lagi. Kami ngobrol basa-basi seputar wawancara makanan favorit apa, film favorit apa, lagu kesukaan apa, seperti halnya kalian yang ingin tahu apa-apa yang disukai oleh idola kalian. Lalu berujung pada sebuah pertanyaan, sudah punya pacar, Kak?

Iya, dia sudah punya pacar. Seperti yang khalayak ramai ketahui saat itu, dia sudah punya pacar. Pacarnya cantik, anak kelas XII IPA 1 apa 2 gitu, lupa. Cantik, namanya Febri. Dia perempuan ya. Aku patah hati? Tentu tidak.. aku ini orangnya tahu diri dan tidak suka bermimpi, tapi mengkhayal iya hahaha. Pokoknya obrolan kami dari basa basi jadi curhat sana sini, maksudnya ini itu. Dia curhat mengenai pacarnya, aku curhat mengenai keluarga. Bahkan kami sampai bertukar nomor ponsel segala. Yes! Karena kata dia, kalau email itu terlalu lama, dia juga jarang buka email sekolah. Setelah itu kami saling bertukar sms, telpon sih enggak. Karena waktu itu biaya telpon pakai ponsel masih terhitung mahal, belum ada TM. Ada telpon rumah, tapi belum saling tukar nomor telpon rumah. Ponsel atau HP ku saat itu masih Nokia 1100, masih monophonic dan berlampu kuning. Nama bekennya HP senter.

Kemudian pada tanggal 26 Desember 2006, terjadi sesuatu yang sungguh tidak pernah kuduga. Jadi, aku seringkali dikata mirip dengan Sasa. Kami berteman dari SMP, SMA hingga kuliah. Memang secara body dan face kami itu mirip, jadi banyak orang salah mengenali. Lalu ada kakak kelas, teman sekelas si Ninja Hijau, namanya Kak Fachri. Dia ada di depan kelasku, di luar, sedang ngobrol sama  Sasa dan nunjuk-nunjuk ke aku. Ya aku nggak peduli karena aku mikir dia ngira aku mirip Sasa. Lalu Kak Fachri ngobrol dengan temannya, Kak Muis, dan Kak Muis nunjuk-nunjuk aku juga. Aku makin nggak ngerti dan salah tingkah, jadi aku sembunyikan mukaku di meja. Lalu Kak Muis dan gerombolannya, yakni Kak Fachri dan lainnya, lewat. Lalu dia ketuk-ketuk jendela. Temanku, yaitu Rozak, dia bilang aku dipanggil Kak Muis. Ya aku noleh ke arah luar kelas. Sontak aku kaget, ternyata ada si Ninja Hijau juga. Dia melihatku sambil senyum. Dan seisi kelasku langsung heboh dan bersorak cieeee. Woy! Mau nangis woy! Malu!

"Oalah... kamu toh Lini..."

Kamu cuma bilang gitu sambil senyum, senyum favoritku yang sempat meneduhkanku. Lalu kamu pergi entah kemana, mungkin ke kantin sama teman-temanmu. Sedang aku menunduk malu karena dicengin teman sekelas, ditanyain macam-macam ada apakah gerangan di antara kita. Tapi alhamdulillah, jawaban bahwa aku cuma ngefans sama kamu sudah memuaskan mereka. Karena mereka realistis, aku yang siswi biasa saja mana mungkin ada apa-apa dengan kakak kelas yang populer di sekolah. Kasta kita berbeda.

Aku beri sedikit penggambaran tentang laki-laki ini. Terutama fisiknya, untuk sifat bisa kalian pahami nanti lewat ceritaku. Kakak ini badannya tidak tinggi, pendek dibanding teman-teman se-gengnya. Tapi tidak terlalu pendek ya. Rambutnya ikal, kalau panjang dikit kelihatan lucu, tapi karena sekolah dia selalu memangkas rapi rambutnya. Kulitnya kuning langsat cenderung putih, alisnya tebal, matanya tidak terlalu lebar ataupun sipit, pas dan teduh pokoknya, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan berwarna merah, dan ada sepucuk jenggot yang tipis di dagunya, karenanya teman-temannya memanggil dia wedhus (jawa: kambing). Dan yang paling membuatku tertarik akan pesonanya adalah senyumannya. Senyumnya adalah hal yang tidak bisa aku lupakan hingga malam ini, padahal aku sudah bisa melupakan semua hal buruk yang dia lakukan padaku.

Dan satu hal lagi yang membuat dia populer adalah, kendaraannya. Waktu itu siswa yang bawa motor selain motor bebek sangat populer. Waktu itu yang lagi ngetrend adalah Honda Mega-Pro, Suzuki Satria dan Kawasaki Ninja. Dan dia satu-satunya siswa di sekolah yang mengendarai Kawasaki Ninja, berwarna hijau. Dia jadi pusat perhatian seluruh siswi di sekolah, tapi aku tidak. Aku nggak tertarik sama motornya, waktu kita pacaran dan mau jalan pun aku ogah-ogahan kalau dia bawa Ninja, aku nggak suka jadi pusat perhatian, naikinnya juga ribet, makan bensin pula juga kan. Enakan naik motor bebek Honda Supra punya adiknya hahahaha.

Setelah tahu wujudku, tak juga dia jadi males menanggapi sms ku. Kita masih bertukar sms, dan entah kenapa aku merasa dia jadi gercep ngebalasnya dan dia jadi lebih terbuka soal dirinya dan masalahnya, yang aku sambut dengan menelanjangi diriku juga. Maksudnya aku juga jadi lebih terbuka, aku ceritakan keadaan keluargaku sesungguhnya, kekacauan yang kerap kali datang ke kepalaku, pesimisnya aku soal masa depan. Dan dia dengan sabar menghiburku, menguatkanku, menyemangatiku. Dan aku semakin mengaguminya, aku penggemar terberatnya.

Lalu di suatu siang menjelang sholat Dhuhur, aku dan Mitha pergi ambil wudhu duluan karena pelajaran saat itu sedang tidak ada gurunya, karena kalau pas jam istirahat sholat bakalan ramai berebut keran air dan kaca buat benerin kerudung. Oya, sekolahku itu sekolah yayasan organisasi Islam jadi siswinya wajib berkerudung. Saat aku berkaca membetulkan kerudung dan Mitha lagi di dalam toilet (dia lagi nggak sholat waktu itu), datang segorombolan kira-kira empat orang siswi anak kelas XII. Aku tahu karena hari itu hari Rabu dan kami memakai seragam khusus dimana kelas X, XI dan XII warna seragamnya berbeda. 

Aku sadar salah satu dari siswi tersebut adalah Kak Febri, pacar si Ninja Hijau. Tapi aku bodo amat, aku tidak mengenalnya dan aku tidak sedang merebut pacarnya. Aku hanya mengagumi pacarnya, dan sebetulnya aku juga mengagumi Kak Febri. Dia cantik, pintar dan betapa beruntung bisa jadi pacar seorang Ninja Hijau. 

Aku masih asik berkaca membetulkan kerudungku, lalu tiba-tiba salah satu teman Kak Febri bilang, "Oh ini namanya Lini..." dengan nada yang super tidak enak didengar dan aku tidak bisa melihat dari pantulan kaca, teman Kak Febri yang mana yang berbicara karena mereka membelakangiku. Namun sekelebat aku bisa melihat senyum sinis Kak Febri padaku. Aku tidak tahu apa itu bisa disebut dengan melabrak atau apalah namanya, karena hanya sepatah kata itu yang aku dengar dan tidak ada pergerakan lainnya. Aku sudah waspada tapi tidak terlalu khawatir juga. Lalu akhirnya Mitha keluar dari toilet dan kami kembali ke kelas. Tapi sungguh, saat itu jantungku berdegup kencang menanti pergerakan selanjutnya. Aku kira bakal seperti di sinetron hahaha.

Aku tidak menceritakan kejadian itu padamu, Kak. Aku memendamnya, karena tidak perlu. Dan saat itu aku bukan apa-apamu, aku hanya mengagumimu. Lalu di kemudian hari kau bercerita padaku bahwa Kak Febri jalan sama cowok lain tanpa sepengetahuanmu. Kamu benar-benar kecewa saat itu, Kak. Dan aku mengira kamu bakalan putus.

Lalu tiba pada suatu bulan (aku lupa bulan apa dan dalam rangka apa kok ada lomba, bukan Agustusan), hari penuh lomba dan jam pelajaran kosong. Pagi itu ada lomba futsal antar kelas. Semua siswa siswi berkumpul di pinggir lapangan atau berdiri berjajar di pagar lantai dua menyaksikan pertandingan futsal.

Saat itu aku mencari sosokmu, kamu ada di mana? Apakah di dalam kelas? Tak lama mataku menemukanmu berada di kantin dengan Kak Febri, kalian nampak seperti sedang bercanda dan begitu mesra. Dan pada saat itu aku menyadari sesuatu, aku cemburu. Dimana yang berarti aku sadar aku telah menyukaimu, lebih dari sekedar mengagumimu. Atau mungkin lebih dari suka. Lalu aku pun sedih dan membencimu. Aku memakimu dengan kata banci di buku harianku, karena ketika para siswa sibuk dengan futsal kamu malah berduaan dengan pacarmu. Picha aja nonton futsal lho. Maaf ya.


- to be continue. Mata sembap karena menangis, menangisi hal manis yang pernah terjadi di antara kita dulu, dan aku merindukan saat saat itu. 

Tersenyumlah
Andai kau sadar senyummu itu indah
Tertawalah
Andai kau tau tawamu memecah suasana

Bicaralah
Biar ku tau apa isi hatimu
Ungkapkanlah
Biar kita bisa bertukar pikiran

Jangan mencoba jadi bidadari

Kau gak perlu sempurna
Kau gak perlu berubah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis...

Mendekatlah
Jangan membuat jarak dengan diriku
Bebaskanlah
Tak usah kau jaga kelakuanmu
Bisikkanlah
Andai kau malu untuk berbagi rasa
Ucapkanlah
tak usah merangkai kata-kata yang indah

Jangan mencoba jadi bidadari

Kau gak perlu sempurna
Kau gak perlu berubah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis... Yang Manis....

(Slank - Yang Manis)

A Short Trip To Nostalgic

      If I have money and some days off, I prefer go to somewhere than go home. No, it's not because I don't miss my home and my fa...