Sekarang ini waktu menunjukkan pukul 14:42 WITA. Mirip empat digit terakhir nomor ponselmu ya? Hahaha. Masih sama atau sudah ganti nomor ponsel?
Aku masih di kantor. Sebentar lagi pulang. Seharian sepi banget dan koneksi internet sebentar-sebentar putus, jadinya males nge-back up data tamu hahahaha. Lalu ngapain seharian? Ya nge-back up data tamu sambil mainan HP, sama foto kue, foto kembang, makan sama ketawa. Jadi mari kita lanjut cerita kemarin. Tapi bentar, aku lanjut sesampai di rumah ya.
***
Waktu menunjukkan adzan Maghrib. Aku belum mandi, nanti aja. Aku sambil dengerin lagu Slank, Yang Manis, yang pernah dia peruntukkan padaku, dulu.
Iya, aku gugup nggak karuan setelah ketahuan. Awalnya, aku balas email mu pura-pura nggak tahu menahu. Namun pada akhirnya aku mengaku juga bahwa aku mengagumi dirimu. Tapi setelah hari itu, berada di sekolah tidak senyaman dulu. Rasanya ingin berubah jadi sekecil debu karena takut bila melihat sosokmu. Pergi ke toilet, pergi ke kantin rasanya jadi tidak nyaman. Padahal ya dirimu nggak tahu wujudku seperti apa.
Entah kenapa kok kamu nggak menganggapku aneh dan annoying, malah terus meladeni email ku. Tidak ada satupun email ku yang kamu abaikan, meskipun lama balasnya tapi aku senaaaaaang sekali! Ah.. rasanya ingin membuka kembali email sekolah membaca satu persatu pembicaraan kita. Apa masih bisa diakses ya?
Oya, setalah ketahuan itu aku sama dia berhubungan lewat email sekolah, bukan lewat email yahoo lagi. Kami ngobrol basa-basi seputar wawancara makanan favorit apa, film favorit apa, lagu kesukaan apa, seperti halnya kalian yang ingin tahu apa-apa yang disukai oleh idola kalian. Lalu berujung pada sebuah pertanyaan, sudah punya pacar, Kak?
Iya, dia sudah punya pacar. Seperti yang khalayak ramai ketahui saat itu, dia sudah punya pacar. Pacarnya cantik, anak kelas XII IPA 1 apa 2 gitu, lupa. Cantik, namanya Febri. Dia perempuan ya. Aku patah hati? Tentu tidak.. aku ini orangnya tahu diri dan tidak suka bermimpi, tapi mengkhayal iya hahaha. Pokoknya obrolan kami dari basa basi jadi curhat sana sini, maksudnya ini itu. Dia curhat mengenai pacarnya, aku curhat mengenai keluarga. Bahkan kami sampai bertukar nomor ponsel segala. Yes! Karena kata dia, kalau email itu terlalu lama, dia juga jarang buka email sekolah. Setelah itu kami saling bertukar sms, telpon sih enggak. Karena waktu itu biaya telpon pakai ponsel masih terhitung mahal, belum ada TM. Ada telpon rumah, tapi belum saling tukar nomor telpon rumah. Ponsel atau HP ku saat itu masih Nokia 1100, masih monophonic dan berlampu kuning. Nama bekennya HP senter.
Kemudian pada tanggal 26 Desember 2006, terjadi sesuatu yang sungguh tidak pernah kuduga. Jadi, aku seringkali dikata mirip dengan Sasa. Kami berteman dari SMP, SMA hingga kuliah. Memang secara body dan face kami itu mirip, jadi banyak orang salah mengenali. Lalu ada kakak kelas, teman sekelas si Ninja Hijau, namanya Kak Fachri. Dia ada di depan kelasku, di luar, sedang ngobrol sama Sasa dan nunjuk-nunjuk ke aku. Ya aku nggak peduli karena aku mikir dia ngira aku mirip Sasa. Lalu Kak Fachri ngobrol dengan temannya, Kak Muis, dan Kak Muis nunjuk-nunjuk aku juga. Aku makin nggak ngerti dan salah tingkah, jadi aku sembunyikan mukaku di meja. Lalu Kak Muis dan gerombolannya, yakni Kak Fachri dan lainnya, lewat. Lalu dia ketuk-ketuk jendela. Temanku, yaitu Rozak, dia bilang aku dipanggil Kak Muis. Ya aku noleh ke arah luar kelas. Sontak aku kaget, ternyata ada si Ninja Hijau juga. Dia melihatku sambil senyum. Dan seisi kelasku langsung heboh dan bersorak cieeee. Woy! Mau nangis woy! Malu!
"Oalah... kamu toh Lini..."
Kamu cuma bilang gitu sambil senyum, senyum favoritku yang sempat meneduhkanku. Lalu kamu pergi entah kemana, mungkin ke kantin sama teman-temanmu. Sedang aku menunduk malu karena dicengin teman sekelas, ditanyain macam-macam ada apakah gerangan di antara kita. Tapi alhamdulillah, jawaban bahwa aku cuma ngefans sama kamu sudah memuaskan mereka. Karena mereka realistis, aku yang siswi biasa saja mana mungkin ada apa-apa dengan kakak kelas yang populer di sekolah. Kasta kita berbeda.
Aku beri sedikit penggambaran tentang laki-laki ini. Terutama fisiknya, untuk sifat bisa kalian pahami nanti lewat ceritaku. Kakak ini badannya tidak tinggi, pendek dibanding teman-teman se-gengnya. Tapi tidak terlalu pendek ya. Rambutnya ikal, kalau panjang dikit kelihatan lucu, tapi karena sekolah dia selalu memangkas rapi rambutnya. Kulitnya kuning langsat cenderung putih, alisnya tebal, matanya tidak terlalu lebar ataupun sipit, pas dan teduh pokoknya, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan berwarna merah, dan ada sepucuk jenggot yang tipis di dagunya, karenanya teman-temannya memanggil dia wedhus (jawa: kambing). Dan yang paling membuatku tertarik akan pesonanya adalah senyumannya. Senyumnya adalah hal yang tidak bisa aku lupakan hingga malam ini, padahal aku sudah bisa melupakan semua hal buruk yang dia lakukan padaku.
Dan satu hal lagi yang membuat dia populer adalah, kendaraannya. Waktu itu siswa yang bawa motor selain motor bebek sangat populer. Waktu itu yang lagi ngetrend adalah Honda Mega-Pro, Suzuki Satria dan Kawasaki Ninja. Dan dia satu-satunya siswa di sekolah yang mengendarai Kawasaki Ninja, berwarna hijau. Dia jadi pusat perhatian seluruh siswi di sekolah, tapi aku tidak. Aku nggak tertarik sama motornya, waktu kita pacaran dan mau jalan pun aku ogah-ogahan kalau dia bawa Ninja, aku nggak suka jadi pusat perhatian, naikinnya juga ribet, makan bensin pula juga kan. Enakan naik motor bebek Honda Supra punya adiknya hahahaha.
Setelah tahu wujudku, tak juga dia jadi males menanggapi sms ku. Kita masih bertukar sms, dan entah kenapa aku merasa dia jadi gercep ngebalasnya dan dia jadi lebih terbuka soal dirinya dan masalahnya, yang aku sambut dengan menelanjangi diriku juga. Maksudnya aku juga jadi lebih terbuka, aku ceritakan keadaan keluargaku sesungguhnya, kekacauan yang kerap kali datang ke kepalaku, pesimisnya aku soal masa depan. Dan dia dengan sabar menghiburku, menguatkanku, menyemangatiku. Dan aku semakin mengaguminya, aku penggemar terberatnya.
Lalu di suatu siang menjelang sholat Dhuhur, aku dan Mitha pergi ambil wudhu duluan karena pelajaran saat itu sedang tidak ada gurunya, karena kalau pas jam istirahat sholat bakalan ramai berebut keran air dan kaca buat benerin kerudung. Oya, sekolahku itu sekolah yayasan organisasi Islam jadi siswinya wajib berkerudung. Saat aku berkaca membetulkan kerudung dan Mitha lagi di dalam toilet (dia lagi nggak sholat waktu itu), datang segorombolan kira-kira empat orang siswi anak kelas XII. Aku tahu karena hari itu hari Rabu dan kami memakai seragam khusus dimana kelas X, XI dan XII warna seragamnya berbeda.
Aku sadar salah satu dari siswi tersebut adalah Kak Febri, pacar si Ninja Hijau. Tapi aku bodo amat, aku tidak mengenalnya dan aku tidak sedang merebut pacarnya. Aku hanya mengagumi pacarnya, dan sebetulnya aku juga mengagumi Kak Febri. Dia cantik, pintar dan betapa beruntung bisa jadi pacar seorang Ninja Hijau.
Aku masih asik berkaca membetulkan kerudungku, lalu tiba-tiba salah satu teman Kak Febri bilang, "Oh ini namanya Lini..." dengan nada yang super tidak enak didengar dan aku tidak bisa melihat dari pantulan kaca, teman Kak Febri yang mana yang berbicara karena mereka membelakangiku. Namun sekelebat aku bisa melihat senyum sinis Kak Febri padaku. Aku tidak tahu apa itu bisa disebut dengan melabrak atau apalah namanya, karena hanya sepatah kata itu yang aku dengar dan tidak ada pergerakan lainnya. Aku sudah waspada tapi tidak terlalu khawatir juga. Lalu akhirnya Mitha keluar dari toilet dan kami kembali ke kelas. Tapi sungguh, saat itu jantungku berdegup kencang menanti pergerakan selanjutnya. Aku kira bakal seperti di sinetron hahaha.
Aku tidak menceritakan kejadian itu padamu, Kak. Aku memendamnya, karena tidak perlu. Dan saat itu aku bukan apa-apamu, aku hanya mengagumimu. Lalu di kemudian hari kau bercerita padaku bahwa Kak Febri jalan sama cowok lain tanpa sepengetahuanmu. Kamu benar-benar kecewa saat itu, Kak. Dan aku mengira kamu bakalan putus.
Lalu tiba pada suatu bulan (aku lupa bulan apa dan dalam rangka apa kok ada lomba, bukan Agustusan), hari penuh lomba dan jam pelajaran kosong. Pagi itu ada lomba futsal antar kelas. Semua siswa siswi berkumpul di pinggir lapangan atau berdiri berjajar di pagar lantai dua menyaksikan pertandingan futsal.
Saat itu aku mencari sosokmu, kamu ada di mana? Apakah di dalam kelas? Tak lama mataku menemukanmu berada di kantin dengan Kak Febri, kalian nampak seperti sedang bercanda dan begitu mesra. Dan pada saat itu aku menyadari sesuatu, aku cemburu. Dimana yang berarti aku sadar aku telah menyukaimu, lebih dari sekedar mengagumimu. Atau mungkin lebih dari suka. Lalu aku pun sedih dan membencimu. Aku memakimu dengan kata banci di buku harianku, karena ketika para siswa sibuk dengan futsal kamu malah berduaan dengan pacarmu. Picha aja nonton futsal lho. Maaf ya.
Saat itu aku mencari sosokmu, kamu ada di mana? Apakah di dalam kelas? Tak lama mataku menemukanmu berada di kantin dengan Kak Febri, kalian nampak seperti sedang bercanda dan begitu mesra. Dan pada saat itu aku menyadari sesuatu, aku cemburu. Dimana yang berarti aku sadar aku telah menyukaimu, lebih dari sekedar mengagumimu. Atau mungkin lebih dari suka. Lalu aku pun sedih dan membencimu. Aku memakimu dengan kata banci di buku harianku, karena ketika para siswa sibuk dengan futsal kamu malah berduaan dengan pacarmu. Picha aja nonton futsal lho. Maaf ya.
- to be continue. Mata sembap karena menangis, menangisi hal manis yang pernah terjadi di antara kita dulu, dan aku merindukan saat saat itu.
Tersenyumlah
Andai kau sadar senyummu itu indah
Tertawalah
Andai kau tau tawamu memecah suasana
Bicaralah
Tertawalah
Andai kau tau tawamu memecah suasana
Bicaralah
Biar ku tau apa isi hatimu
Ungkapkanlah
Biar kita bisa bertukar pikiran
Jangan mencoba jadi bidadari
Ungkapkanlah
Biar kita bisa bertukar pikiran
Jangan mencoba jadi bidadari
Kau gak perlu sempurna
Kau gak perlu berubah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis...
Mendekatlah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis...
Mendekatlah
Jangan membuat jarak dengan diriku
Bebaskanlah
Tak usah kau jaga kelakuanmu
Bisikkanlah
Andai kau malu untuk berbagi rasa
Ucapkanlah
tak usah merangkai kata-kata yang indah
Jangan mencoba jadi bidadari
Kau gak perlu sempurna
Bebaskanlah
Tak usah kau jaga kelakuanmu
Bisikkanlah
Andai kau malu untuk berbagi rasa
Ucapkanlah
tak usah merangkai kata-kata yang indah
Jangan mencoba jadi bidadari
Kau gak perlu sempurna
Kau gak perlu berubah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis... Yang Manis....
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis... Yang Manis....
(Slank - Yang Manis)
No comments:
Post a Comment