Tuesday, February 27, 2018

Si Ninja Hijau: Chapter Two



Sekarang ini waktu menunjukkan pukul 14:42 WITA. Mirip empat digit terakhir nomor ponselmu ya? Hahaha. Masih sama atau sudah ganti nomor ponsel? 

Aku masih di kantor. Sebentar lagi pulang. Seharian sepi banget dan koneksi internet sebentar-sebentar putus, jadinya males nge-back up data tamu hahahaha. Lalu ngapain seharian? Ya nge-back up data tamu sambil mainan HP, sama foto kue, foto kembang, makan sama ketawa. Jadi mari kita lanjut cerita kemarin. Tapi bentar, aku lanjut sesampai di rumah ya.


***

Waktu menunjukkan adzan Maghrib. Aku belum mandi, nanti aja. Aku sambil dengerin lagu Slank, Yang Manis, yang pernah dia peruntukkan padaku, dulu.

Iya, aku gugup nggak karuan setelah ketahuan. Awalnya, aku balas email mu pura-pura nggak tahu menahu. Namun pada akhirnya aku mengaku juga bahwa aku mengagumi dirimu. Tapi setelah hari itu, berada di sekolah tidak senyaman dulu. Rasanya ingin berubah jadi sekecil debu karena takut bila melihat sosokmu. Pergi ke toilet, pergi ke kantin rasanya jadi tidak nyaman. Padahal ya dirimu nggak tahu wujudku seperti apa.

Entah kenapa kok kamu nggak menganggapku aneh dan annoying, malah terus meladeni email ku. Tidak ada satupun email ku yang kamu abaikan, meskipun lama balasnya tapi aku senaaaaaang sekali! Ah.. rasanya ingin membuka kembali email sekolah membaca satu persatu pembicaraan kita. Apa masih bisa diakses ya?

Oya, setalah ketahuan itu aku sama dia berhubungan lewat email sekolah, bukan lewat email yahoo lagi. Kami ngobrol basa-basi seputar wawancara makanan favorit apa, film favorit apa, lagu kesukaan apa, seperti halnya kalian yang ingin tahu apa-apa yang disukai oleh idola kalian. Lalu berujung pada sebuah pertanyaan, sudah punya pacar, Kak?

Iya, dia sudah punya pacar. Seperti yang khalayak ramai ketahui saat itu, dia sudah punya pacar. Pacarnya cantik, anak kelas XII IPA 1 apa 2 gitu, lupa. Cantik, namanya Febri. Dia perempuan ya. Aku patah hati? Tentu tidak.. aku ini orangnya tahu diri dan tidak suka bermimpi, tapi mengkhayal iya hahaha. Pokoknya obrolan kami dari basa basi jadi curhat sana sini, maksudnya ini itu. Dia curhat mengenai pacarnya, aku curhat mengenai keluarga. Bahkan kami sampai bertukar nomor ponsel segala. Yes! Karena kata dia, kalau email itu terlalu lama, dia juga jarang buka email sekolah. Setelah itu kami saling bertukar sms, telpon sih enggak. Karena waktu itu biaya telpon pakai ponsel masih terhitung mahal, belum ada TM. Ada telpon rumah, tapi belum saling tukar nomor telpon rumah. Ponsel atau HP ku saat itu masih Nokia 1100, masih monophonic dan berlampu kuning. Nama bekennya HP senter.

Kemudian pada tanggal 26 Desember 2006, terjadi sesuatu yang sungguh tidak pernah kuduga. Jadi, aku seringkali dikata mirip dengan Sasa. Kami berteman dari SMP, SMA hingga kuliah. Memang secara body dan face kami itu mirip, jadi banyak orang salah mengenali. Lalu ada kakak kelas, teman sekelas si Ninja Hijau, namanya Kak Fachri. Dia ada di depan kelasku, di luar, sedang ngobrol sama  Sasa dan nunjuk-nunjuk ke aku. Ya aku nggak peduli karena aku mikir dia ngira aku mirip Sasa. Lalu Kak Fachri ngobrol dengan temannya, Kak Muis, dan Kak Muis nunjuk-nunjuk aku juga. Aku makin nggak ngerti dan salah tingkah, jadi aku sembunyikan mukaku di meja. Lalu Kak Muis dan gerombolannya, yakni Kak Fachri dan lainnya, lewat. Lalu dia ketuk-ketuk jendela. Temanku, yaitu Rozak, dia bilang aku dipanggil Kak Muis. Ya aku noleh ke arah luar kelas. Sontak aku kaget, ternyata ada si Ninja Hijau juga. Dia melihatku sambil senyum. Dan seisi kelasku langsung heboh dan bersorak cieeee. Woy! Mau nangis woy! Malu!

"Oalah... kamu toh Lini..."

Kamu cuma bilang gitu sambil senyum, senyum favoritku yang sempat meneduhkanku. Lalu kamu pergi entah kemana, mungkin ke kantin sama teman-temanmu. Sedang aku menunduk malu karena dicengin teman sekelas, ditanyain macam-macam ada apakah gerangan di antara kita. Tapi alhamdulillah, jawaban bahwa aku cuma ngefans sama kamu sudah memuaskan mereka. Karena mereka realistis, aku yang siswi biasa saja mana mungkin ada apa-apa dengan kakak kelas yang populer di sekolah. Kasta kita berbeda.

Aku beri sedikit penggambaran tentang laki-laki ini. Terutama fisiknya, untuk sifat bisa kalian pahami nanti lewat ceritaku. Kakak ini badannya tidak tinggi, pendek dibanding teman-teman se-gengnya. Tapi tidak terlalu pendek ya. Rambutnya ikal, kalau panjang dikit kelihatan lucu, tapi karena sekolah dia selalu memangkas rapi rambutnya. Kulitnya kuning langsat cenderung putih, alisnya tebal, matanya tidak terlalu lebar ataupun sipit, pas dan teduh pokoknya, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan berwarna merah, dan ada sepucuk jenggot yang tipis di dagunya, karenanya teman-temannya memanggil dia wedhus (jawa: kambing). Dan yang paling membuatku tertarik akan pesonanya adalah senyumannya. Senyumnya adalah hal yang tidak bisa aku lupakan hingga malam ini, padahal aku sudah bisa melupakan semua hal buruk yang dia lakukan padaku.

Dan satu hal lagi yang membuat dia populer adalah, kendaraannya. Waktu itu siswa yang bawa motor selain motor bebek sangat populer. Waktu itu yang lagi ngetrend adalah Honda Mega-Pro, Suzuki Satria dan Kawasaki Ninja. Dan dia satu-satunya siswa di sekolah yang mengendarai Kawasaki Ninja, berwarna hijau. Dia jadi pusat perhatian seluruh siswi di sekolah, tapi aku tidak. Aku nggak tertarik sama motornya, waktu kita pacaran dan mau jalan pun aku ogah-ogahan kalau dia bawa Ninja, aku nggak suka jadi pusat perhatian, naikinnya juga ribet, makan bensin pula juga kan. Enakan naik motor bebek Honda Supra punya adiknya hahahaha.

Setelah tahu wujudku, tak juga dia jadi males menanggapi sms ku. Kita masih bertukar sms, dan entah kenapa aku merasa dia jadi gercep ngebalasnya dan dia jadi lebih terbuka soal dirinya dan masalahnya, yang aku sambut dengan menelanjangi diriku juga. Maksudnya aku juga jadi lebih terbuka, aku ceritakan keadaan keluargaku sesungguhnya, kekacauan yang kerap kali datang ke kepalaku, pesimisnya aku soal masa depan. Dan dia dengan sabar menghiburku, menguatkanku, menyemangatiku. Dan aku semakin mengaguminya, aku penggemar terberatnya.

Lalu di suatu siang menjelang sholat Dhuhur, aku dan Mitha pergi ambil wudhu duluan karena pelajaran saat itu sedang tidak ada gurunya, karena kalau pas jam istirahat sholat bakalan ramai berebut keran air dan kaca buat benerin kerudung. Oya, sekolahku itu sekolah yayasan organisasi Islam jadi siswinya wajib berkerudung. Saat aku berkaca membetulkan kerudung dan Mitha lagi di dalam toilet (dia lagi nggak sholat waktu itu), datang segorombolan kira-kira empat orang siswi anak kelas XII. Aku tahu karena hari itu hari Rabu dan kami memakai seragam khusus dimana kelas X, XI dan XII warna seragamnya berbeda. 

Aku sadar salah satu dari siswi tersebut adalah Kak Febri, pacar si Ninja Hijau. Tapi aku bodo amat, aku tidak mengenalnya dan aku tidak sedang merebut pacarnya. Aku hanya mengagumi pacarnya, dan sebetulnya aku juga mengagumi Kak Febri. Dia cantik, pintar dan betapa beruntung bisa jadi pacar seorang Ninja Hijau. 

Aku masih asik berkaca membetulkan kerudungku, lalu tiba-tiba salah satu teman Kak Febri bilang, "Oh ini namanya Lini..." dengan nada yang super tidak enak didengar dan aku tidak bisa melihat dari pantulan kaca, teman Kak Febri yang mana yang berbicara karena mereka membelakangiku. Namun sekelebat aku bisa melihat senyum sinis Kak Febri padaku. Aku tidak tahu apa itu bisa disebut dengan melabrak atau apalah namanya, karena hanya sepatah kata itu yang aku dengar dan tidak ada pergerakan lainnya. Aku sudah waspada tapi tidak terlalu khawatir juga. Lalu akhirnya Mitha keluar dari toilet dan kami kembali ke kelas. Tapi sungguh, saat itu jantungku berdegup kencang menanti pergerakan selanjutnya. Aku kira bakal seperti di sinetron hahaha.

Aku tidak menceritakan kejadian itu padamu, Kak. Aku memendamnya, karena tidak perlu. Dan saat itu aku bukan apa-apamu, aku hanya mengagumimu. Lalu di kemudian hari kau bercerita padaku bahwa Kak Febri jalan sama cowok lain tanpa sepengetahuanmu. Kamu benar-benar kecewa saat itu, Kak. Dan aku mengira kamu bakalan putus.

Lalu tiba pada suatu bulan (aku lupa bulan apa dan dalam rangka apa kok ada lomba, bukan Agustusan), hari penuh lomba dan jam pelajaran kosong. Pagi itu ada lomba futsal antar kelas. Semua siswa siswi berkumpul di pinggir lapangan atau berdiri berjajar di pagar lantai dua menyaksikan pertandingan futsal.

Saat itu aku mencari sosokmu, kamu ada di mana? Apakah di dalam kelas? Tak lama mataku menemukanmu berada di kantin dengan Kak Febri, kalian nampak seperti sedang bercanda dan begitu mesra. Dan pada saat itu aku menyadari sesuatu, aku cemburu. Dimana yang berarti aku sadar aku telah menyukaimu, lebih dari sekedar mengagumimu. Atau mungkin lebih dari suka. Lalu aku pun sedih dan membencimu. Aku memakimu dengan kata banci di buku harianku, karena ketika para siswa sibuk dengan futsal kamu malah berduaan dengan pacarmu. Picha aja nonton futsal lho. Maaf ya.


- to be continue. Mata sembap karena menangis, menangisi hal manis yang pernah terjadi di antara kita dulu, dan aku merindukan saat saat itu. 

Tersenyumlah
Andai kau sadar senyummu itu indah
Tertawalah
Andai kau tau tawamu memecah suasana

Bicaralah
Biar ku tau apa isi hatimu
Ungkapkanlah
Biar kita bisa bertukar pikiran

Jangan mencoba jadi bidadari

Kau gak perlu sempurna
Kau gak perlu berubah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis...

Mendekatlah
Jangan membuat jarak dengan diriku
Bebaskanlah
Tak usah kau jaga kelakuanmu
Bisikkanlah
Andai kau malu untuk berbagi rasa
Ucapkanlah
tak usah merangkai kata-kata yang indah

Jangan mencoba jadi bidadari

Kau gak perlu sempurna
Kau gak perlu berubah
Gak ada yang sempurna
Hanya senyumanmu yang kubutuhkan
Yang manis... Yang Manis....

(Slank - Yang Manis)

Monday, February 26, 2018

Si Ninja Hijau: Chapter One



Aku menulis ini saat sore hari, tapi senja tidak sedang menemaniku karena diselimuti mendung. Tapi alhamdulillah jinggaku masih menyala, meski sempat ingin padam tertiup angin. Dan lagu Pelukis Malam-nya Nugie jadi temanku sore ini, lagu kesukaanmu.

Ya, berawal dari caption yang aku baca pada sebuah foto di instagram, masih tentang Dilan-Milea, dan entah kenapa ketika aku membacanya aku jadi tersenyum karena bayanganmu yang tiba-tiba muncul tanpa aku cari. Kata-katanya seperti berikut ini:




Yang spesial, rasanya aku tidak pernah menyesal.
Menikmati masa-masa itu bersamamu.
Masa depan memang bukan milik kita,
tapi kabar baiknya, 
aku tetap akan selalu setia mengenangmu di masa lalu.
Karena aku, adalah penggemar terberatmu.



Akan aku ceritakan cerita romansa yang mewarnai masa SMA ku dulu, tentang seseorang yang pernah aku cintai setengah meninggal, tentang hal-hal manis yang pernah terjadi dan kecemburuan-kecemburuan remaja yang aku harap tak pernah aku lakukan. Jadi seperti ini.

Awal semester satu saat aku duduk di bangku kelas X SMA, adalah pertama kali aku melihat wujudnya. Saat itu aku yang masih patah hati karena seorang laki-laki yang dulunya menyukaiku, kini pacaran dengan sahabatku. Aku menyebutnya dengan cinta pertama, karena itu adalah pertama kalinya aku menangisi laki-laki. Itu saat aku masih SMP. Tapi bukan dia yang ingin aku ceritakan sekarang ini, tapi si Ninja Hijau.

Sejak menginjak bangku SD sampai SMA, hingga bangku kuliah, aku bukan tipe siswi yang populer di sekolah. Aku tidak menarik (bukan jelek ya), karakterku biasa saja dan tidak terlalu menonjol, kurang suka bergaul dengan siswa siswi populer karena bakalan ribet ngumpul sana ngumpul sini, makan ongkos dan waktu. Bisa dibilang kuper (kurang pergaulan) karena aku orangnya nggak asik, malas menyapa kalau nggak kenal, malas kenalan dan sebagainya. Pokoknya aku tidak menarik, biasa saja, dan seperti bayangan yang terabaikan. Tapi sungguh, aku lebih nyaman begitu, jauh dari gosip dan tidak jadi bahan obrolan siswa siswi lainnya.

Dan, sudah semingguan aku mendengar desas desus ada kakak kelas keren nan ganteng rupawan yang naik motor Kawasaki Ninja warna hijau. Namanya Raden Raditya Dwi Kurniawan, panggilannya Radit. Dia kelas XII Bahasa. Kalau tidak salah aku mendengar pembicaraan itu dari Rizkha, Puji dan Anggi. Aku tidak terlalu berminat dengan cowok ganteng nan populer, karena saat itu aku masih kalut dengan cinta pertamaku yang ternyata satu SMA denganku, sedang sahabatku yaitu pacarnya sekolah di SMA lainnya. Sungguh, waktu itu aku tidak menggubris pembicaraan teman-temanku.

Namun di suatu pagi yang indah (indah karena akhirnya aku tahu wujudnya), tiga temanku itu heboh lantaran kakak kelas yang mereka bicarakan datang ke sekolah bareng Picha, entah P-cha atau siapa nama aslinya, lupa, yang notabene lebih populer karena kegantengannya yang maha ganteng dibanding si Ninja Hijau. Sebelumnya aku sudah tahu tentang Picha, dan iya memang ganteng, tapi tidak membuatku tertarik. Tertarik untuk mengidolakan dia seperti siswi siswi lainnya.

Masih pada kehebohan ketiga temanku itu, mereka akhirnya memanggilku dari luar kelas. Kelasku saat itu ada di lantai dua menghadap langsung ke lapangan dan gerbang sekolah, dan parkiran motor ada di bawah kelasku. Aku pun akhirnya turut keluar bersandar pada pagar dan mengedarkan pandanganku ke bawah, dan mataku langsung tertuju pada wujud satu manusia yang sedang menuntun motor warna hijau, warna paling eye catchy, di antara manusia-manusia lainnya yang sedang menuntun motornya. KBM sudah berjalan sekitar 4 bulanan dan aku baru pertama kali melihat sosok ini. Kelihatan banget kan aku cueknya gimana.

Di sekolahku ada peraturan, siswa siswi yang bawa motor dianjurkan menuntun motornya dari gerbang sekolah sampai parkiran dikarenakan tempat parkir dekat dengan ruang kelas, biar nggak bising. Tapi dengan begitu, aku bisa menikmati keindahan laki-laki itu dalam waktu yang cukup lama. Iya, di antara puluhan siswa siswi yang berjalan, berlari atau sedang menuntun motor, mataku tertuju pada satu wujud yang tersenyum dengan senyuman paling indah di pagi itu, di antara semuanya. Dia yang paling indah pagi itu, matahari kalah. Cinta pertamaku kalah. Dan pandanganku benar-benar tak lepas dari wujudnya sampai dia hilang ditelan dinding ruang kelasnya.

Akan aku beri sedikit penggambaran mengenai sekolahku. Sekolahku tidak terlalu luas, hanya mempunyai satu lapangan yang punya banyak fungsi, salah satunya jadi tempat parkir. Dan sekolahku berbentuk persegi panjang dan di tengah-tengahnya adalah lapangan itu, jadi setiap kelas menghadap langsung ke lapangan. Jika kelasku menghadap ke gerbang sekolah yaitu menghadap ke selatan, maka kelas kakak ini berada di sebelah kanan kelasku dan mengahadap ke timur, kelasnya juga ada di lantai dua. Jika dia mau ke kantin atau kamar mandi yang ada di bawah, dia bisa belok kanan jauh dari pandanganku atau belok kiri melewati kelasku. Terserah dia sih mau lewat mana hahaha.

Daaan.. sejak hari itu aku memutuskan bahwa diriku adalah penggemarmu, penggemar terberatmu. Kenapa terberat? Karena aku sudah melewati batas kewarasanku dalam menyukai seseorang. Aku yang biasanya mengagumi seseorang dalam diam, kini aku ada pergerakan. Apapun caranya akan aku lakukan untuk bisa dekat denganmu. Jujur, aku tidak ada niatan untuk bisa pacaran denganmu kala itu apalagi bisa dekat denganmu sebagai teman, karena aku tahu diri dan tidak ingin bermimpi. Lagipula aku sedang sibuk meratapi cinta pertamaku. Niatku hanya ingin dekat denganmu sebagai penggemarmu. Seperti yang Rizkha lakukan, entah dari mana dia bisa mendapat nomor ponsel kakak kelas idolanya dan sekedar ber-sms-an saja saat itu, tidak ada niatan apapun.

Lalu aku? Aku enggan mencari nomor ponselmu. Bagiku, hanya dengan mengagumimu dari jauh saat itu sudah cukup bagiku. Awalnya ya.. beneran aku enggan mencari berita tentang dirimu karena tidak ada keberanian dan enggan menjadi bahan olokan bahwa aku sedang mengagumi seseorang. Saat itu aku orangnya tertutup sekali dan cuek, aku hanya terbuka pada beberapa teman dekat, yang waktu itu adalah Puji dan Mitha, juga Rizkha. Aku tidak ingin dia tahu bahwa ada adik kelasmu yang mengagumi dirimu. Tapi pada akhirnya, aku melakukan sebuah pergerakan. Akhirnya aku bertukar pesan via email denganmu, dalam sebuah penyamaran, seperti yang Puji lakukan. Puji panutanku hahaha.

Jadi aku membuat sebuah email yahoo (gmail belum terkenal), sebut saja emailku saat itu gibols_pippo@yahoo(dot)com. Gibol adalah singkatan dari Gila Bola dan juga nama gengku saat SMP (di mana sahabat se-geng-ku pacaran dengan cinta pertamaku), dan Pippo adalah nama panggilan Filippo Inzaghi, pemain sepak bola favoritku. Dan entah dari mana aku mendapat alamat email mu, aku lupa. Apa dari Puji yang nanya sama idolanya ya? Aku lupa. Tapi aku masih ingat alamat email mu sampai sekarang: ninjaijoney**n@yahoo.com :))

Dan dengan segala keberanian dan kebodohan yang aku punya, aku pura-pura salah kirim email ke alamat email-nya (bonek hahahahahaha). Lalu beralih menjadi sebuah perkenalan: kenalkan, namaku Laras (kalau tidak salah aku mengaku begitu) kuliah semester satu di Trisakti. Tadinya mau kirim email ke teman, kok salah kirim. Dan pada saat itu akses email sangat terbatas. Belum ada smartphone, jaringan internet masih sebatas di komputer, kalau mau akses internet ya harus ke warnet atau kalau mau gratis ya di lab komputer sekolah. Jadi email bisa dibalas saat pergi ke warnet atau lab komputer pada saat pulang sekolah, atau pada saat pelajaran komputer itu sendiri. Dan itu membutuhkan waktu berhari-hari untuk menerima balasan email darinya. Kalau kata Dilan, resiko mencintaimu. Eh mengagumimu hahaha.

Lalu di sekolah, pada saat pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer, di mana laboratoriumnya merupakan tempat favoritku di sekolah), kami dibuatkan email sekolah oleh Pak Sukari, guru TIK ku. Dan seluruh siswa di sekolah itu dibuatkan email, bahkan semua guru dan kepala sekolah. Dari situlah bencana datang. Dia menemukanku.

Iya, dengan bodohnya email yahoo dan email sekolahku alamat depannya sama. Sama-sama gibols_pippo cuma beda huruf S-nya doang. Beneran ini nggak disengaja, karena aku tidak tahu harus pakai nama apaan untuk email sekolah. Kata Pak Sukari bebas, dan akunya juga nggak mau ribet dan nggak mau mikir lagi jadi aku pakai nama gibol_pippo. Dan aku tidak tahu bahwa setiap penduduk di sekolah ini bisa searching dan melihat daftar email penduduk sekolah lainnya. Lalu saat pelajaran TIK, kami disuruh mengecek email sekolah masing-masing dan diutus untuk mengirim jawaban tugas ke email Pak Sukari. Pada saat itu aku melihat ada 1 pesan di inbox dan aku buka pesan itu. Allahuakbar.... darahku langsung turun ke kaki, badan jadi dingin dan gemetaran.

"Laras? Kamu yang kirim di email yahoo kan?"
"Kamu anak sekolah ini juga? Namamu Lini? Kelas berapa?"


Jedieerr!!! Serasa halilintar menyambar di siang bolong. Kepalaku mau pecah. Pandangan berkunang-kunang, kakiku lemas, perut mules. Mau mati, mau nangis, mau sembunyi. Malu. Sudah ketahuan.


- to be continue. Sudah, saya mau tidur dulu. Besok kerja pagi. Mau tidur sambil senyum dulu karena baca email mu di tahun 2009. Selamat malam.
Ini link caption instagram yang saya kutip: https://www.instagram.com/p/BfU8hbmAsXZ/

KFC, Pantai Amal dan Geng Rumpi



Sabtu, 17 Februari 2018.

Seharian pengangguran di kantor bingung mau ngapain karena kerjaan sudah selesai semua, biarlah magabut sesekali (sesekali ya). Habis itu pulangnya galau lagi mau nongkrong di mana, antara Galileo (lagi) atau rumah Cin Yuli. Setelah perdebatan panjang di telepon dan WA grup, akhirnya kita nongkrong di KFC, satu-satunya fast food yang ada di Tarakan. McDonald? Pizza Hut? Hokben? Nggak ada di sini, cuy. Makanya kalau pulang kampung munyak (bete) sendiri lihat KFC hahahaha.

Dan pada akhirnya, Aku, Unnie, Cin Yuli dan Neng Ipeh bertemu di KFC. Tentu saja aku memesan menu biasanya, Super Besar 1 yang ayamnya nggak seberapa besar, cream soup dan ice cream sundae. Makan cuma 30 menitan, ngerumpinya dua jam-an. Ngerumpiin apa sih emangnya? Banyak.

Sebelum berangkat ke KFC, ngerumpi dulu di kantor sama Cin Indo dan si Gendut. Ternyata mereka berdua stalker handal di dunia maya hahahaha. Bisa-bisanya dua orang ini stalking facebooknya si Coy dan keluarga barunya. Hal yang luar biasa untuk ukuran Cin Indo yang baru punya hp dan hp-nya hp titut titut pula, nggak pernah mainan facebook juga. Mamak satu ini....


Minggu, 18 Februari 2018.

Sunday is laundry day. Ya, hari Minggu waktunya bangun siang. Kemudian mandi, nyuci, beres-beres kamar lalu sarapan. Setelahnya quality time with my self, entah nonton drakor, variety show korea, film, ngemil atau tidur lagi. Bebas. Iya, setelah dapat utusan dari GM bahwa aku tidak lagi boleh masuk sore dan kalau bisa liburnya bukan di hari aktif. Sebelumnya liburku di hari Senin selama dua tahun lebih, sekarang di ganti Minggu. Padahal enak bisa sombong, yang lain pada menggerutu karena Monster Day akunya malah santai di rumah hahahaha. Tapi sekarang sudah nggak bisa sombong. Gapapa, yang penting masih dapat hari libur.

Sorenya setelah tidur sebentar, aku pergi ke Pantai Amal. Aku sama Unnie kumpul di Hotel nunggu dijemput Andre, lamanya dia datang eh rupanya bawa calon bininya. Pacarnya cantik. Novi ya namanya? Apa Vita? Ah pokoknya cantik.

Habis itu kami jemput Cin Yuli di rumahnya, dan langsung meluncur ke Pantai Amal. Di sana sudah menunggu Ijal sama Neng Ipeh, juga Pitung. Sebelum kami datang Neng Ipeh sudah pesan Kapah  (sejenis kerang) sama Udang gorengnya, juga tak lupa es kelapa mudanya. Jadi sesampai di Amal, tanpa menunggu lama pesanan kami datang, cuss langsung makan hahaha. Kalau mau pergi ke Amal, mampir di rumah makan Santa 2 ya. Di situ sambal Burasnya enak (Buras sejenis lontong yang diolah dengan santan, bukan air).

Dan.. setelah bertahun-tahun aku memutuskan untuk berhenti merokok, sore itu ditemani senja yang temaram karena mendung dan deburan ombak laut pasang, aku merokok lagi. Asal tahu saja, aku sudah merokok sejak SMA. Tentu saja tanpa sepengetahuan keluargaku. Bukan untuk gaya-gayaan atau menjadi sebuah kebiasaan, tapi rasanya ada yang ikut hilang bersama asap rokok yang aku hembuskan ke udara, rasa gundah gelisah bercampur sedih yang entah datang dari mana. Rasanya, melihat asap rokok yang perlahan hilang itu menenangkan. Seolah-olah asap itu mengatakan, "Tenanglah. Akan sama sepertiku yang segera lenyap di antara waktu. Tenanglah."

Haaahhh... jadi rindu ngerokok bareng kamu. Tanpa protes atau mencibir karena aku seorang perempuan dan kau laki-laki, kita berbarengan menyalakan rokok masing-masing dan menghabiskannya dalam keheningan. Kau menikmati rokokmu dan akupun menikmati rokokku, tanpa interupsi cukup berbicara dari hati. Meski kau tahu saat itu aku ingin menangis dan menjerit, tapi kau tetap diam dengan rokokmu, bahkan tak kudengar suara hembusan nafas atau detak jantungmu. Hey, aku rindu. Apa kabarmu?






- lagi jadi reception hari ini karena seorang kawan bangun kesiangan dan tukar off. Aku ngetik di pc reception, saat jam kerja. Hahahahaha.

Monday, February 12, 2018

Galileo dan Vespa

Selamat sore.
Aku lagi di cafe Galileo, sedang duduk sambil ngetik di hp dan sesekali ngemilin kentang goreng. Sambil ngelirik sana sini juga sih. Sedikit menyesal juga nongkrong di sini tapi nggak bawa laptop. Tapi segan juga mau bawa laptop kantor hahaha.

Teman nongkrong sore ini ditemani Unnie (korea: kakak perempuan). Cuma berdua aja dikarenakan si Cin lagi sibuk sama kerjaannya. Awalnya cuma pesan Milo Butter Crotch sama Spicy Chicken Wings, si Unnie pesan Pisang goreng keju coklat sama Thai Tea. Lalu lapar lagi pesan Mie beef black paper sama kentang goreng. Mi-nya nggak enak, masih enak mi ayamnya Pak Iro (beneran).

Di depan kami duduk segerombolan anak-anak yang kayaknya masih SMP. Nampaknya mereka fakir kuota yang lagi cari wi-fi buat main Mobile Legend hahaha (suudzon). Kalau aku mah dulu pas masih SMP mainnya bukan di cafe begini, mainnya di stadion GOR Tri Dharma, nonton bola atau hanya sekedar nonton pemain Petro Putra latihan bola dengan pamitan izin ke Mama mau latihan Tapak Suci di sekolah. Belum ngerti namanya nongkrong begini hahaha. Beda generasi, mereka kids jaman now, aku mah kids jaman yesterday.

Terus di meja sebelah segerombolan anak muda geng moge (motor gede) yang kayaknya anak kuliahan. Bukan Dilan, Anak langit ini mah yang jajan sama uang bensin masih minta ortu (suudzon lagi). Beruntunglah kamu.. yah meski aku tahu pasti hidupmu gak luput dari kesulitan juga. Maka tetap rendah hatilah. Kurang memperhatikan juga sih apa yang lagi mereka omongin. Biarlah.

Btw senja di luar lagi cantik. Pulang nongkrong mau mampir ke Gramedia. Bye bye.


Dor. Aku lanjut lagi di rumah karena ada suatu kejadian yang mengingatkan masa lalu. Aku habis mandi dan ngetik pakai laptop. Sepulang dari Gramedia, aku isi Pertamax dulu. Pas ngantri rupanya di sebelah ada adek adek bervespa yang lagi ribet sama vespanya. Pas ngeliat jadi senyum sendiri, keinget kamu. Iya kamu.

Waktu itu siang siang, lupa tanggal berapa, yang pasti kita masih pacaran, kamu sok-sokan pinjam vespa si Limbad (lupa nama aslinya). Kalian tukar motor ceritanya terus ngajakin aku jalan ke Batu pakai vespa, padahal kamunya belum punya pengalaman ngendarai vespa. Yah seperti bisa ditebak, di tengah jalan (waktu itu kalau nggak salah mau pergi ke tempat budi daya ikan mas di daerah Selecta) vespanya mogok. Kamunya kebingungan padahal sebelum berangkat sudah ditraining sama Limbad kalau ada apa-apa solusinya begini begitu (motor dia waktu itu Honda Mega-pro), tapi itu vespa nggak mau nyala. Mati kita.

Telpon Limbad nggak diangkat. Eh apa diangkat ya tapi Limbad nggak bisa nyamperin. Apa gimana ya? Lupa. Pokoknya, solidaritas pengendara Vespa itu memang luar biasa. Tiba-tiba ada bapak-bapak tak dikenal lagi ngendarain Vespa berhenti di tempat kami yang lagi kebingungan, terus nanya ke kami vespanya kenapa. Entah sama si Adi dijawab apaan. Lalu si bapak ngebantu nyoba nyetater dan entah diapain aja saat itu, eh terus si Vespa nyala mesinnya. Kami berterima kasih dan si Bapak pergi. Dan daripada mogok lagi di jalan, kita mutusin buat pulang. Ngasih makan ikan kapan-kapan aja di lain kesempatan.

Yah.. rencana itu belum juga kelaksana sampai kita putus beberapa minggu kemudian. Eh tapi aku lupa, waktu itu mau ke Payung apa mau ngasih makan ikan ya? Kayaknya ke Payung ya? Hahahaha..

Kalau nggak salah seminggu kemudian kita pergi lagi ke Batu, naik motornya dia sendiri, malam-malam. Belum sampai Payung, masih di daerah Songgoriti, kabut tiba-tiba turun. Jarak pandang terbatas dan jalanan sepi pula. Semacam di depan kita bakal muncul sesuatu. Akhirnya, di tengah jalan kita mutusin buat putar balik karena takut hahahahahaha. Dan kencan kita berdua tertunda sampai akhirnya kita putus karena kembalinya mantanmu itu. Kencan kita cukup di sepanjang jalanan Malang-Sidoarjo-Surabaya-Gresik saja ya? Di Gresik, apa kita sempat kencan berdua? Nggak sempat ngajakin kamu ke SIS (Somewhere in Surabaya) juga. Kamunya bodoh sih.

Saturday, February 10, 2018

Bertemu Papa


Halo. Lama nggak bersua. Aku habis mandi dan lagi dengerin lagu era 90a-00an. Gara gara habis baca novel Dilan entah kenapa jadi ingat blog ini dan seluruh kenangannya, dan pengen dengerin lagu-lagu lama. Jadinya menyusup lagi dan edit edit sedikit. Lalu ingin aktif nulis lagi.

Sekarang aku di Tarakan, Kalimantan Utara, pulau kecil yang kalau melihat di peta, mata kita harus melotot. Dan baru tau juga ternyata Tarakan berada paling atas wilayah Indonesia saat aku melihatnya di google maps, saat sudah setahunan tinggal di Tarakan, posisinya lebih tinggi daripada Manado. Dan aku di sini sudah hampir 3 tahun, masih terikat masa lalu dan semakin kalut dengan masa depan.

Aku berencana berada di Tarakan untuk 5 tahun. Sebagaimana aku pernah di Malang untuk 5 tahun juga. Disini numpang tinggal di rumah Tante, adiknya Papa. Ya, sebulan setelah meninggalnya Papa aku pergi ke Tarakan untuk mencari kerja. Karena kesulitan mencari kerja di Jawa dengan keadaan belum ada pengalaman. Aku di Tarakan bekerja di sebuah hotel yang cukup terkenal, hotel tua tapi sebenernya interiornya lumayan bagus dibanding hotel lain. Review oleh customer di internet juga lumayan. Entah kenapa, padahal aku bukan pemilik hotel, aku merasa sedikit bangga. Tapi tidak pada sistem manajemennya. Buruk. Tidak adil. Penipu.

Apa yang ingin aku ceritakan disini adalah hal hal yang telah terlewati sejak postingan terakhirku. Apa saja yang terjadi, apakah aku berubah, juga sedikit kilas balik masa lalu yang belum pernah aku ceritakan, tentang waktu yang telah aku habiskan dengan beberapa lelaki, tentang bagaimana aku akhirnya bisa bertemu Papa setelah bertahun-tahun dia menghilang hingga akhirnya Ia benar benar lenyap dari bumi, di depan mataku. Jadi yang mana dulu? Soal Papa aja kali ya?


                                                                           ****


Ya, setelah Papa benar-benar pergi di tahun 2004 (di tahun 2003 beliau sudah jarang pulang), selama tujuh tahun berpisah dan nggak tau dia ada di mana, nggak tahu seperti apa wujudnya saat itu (waktu itu komunikasi sebatas telpon dan sms belum ada video call dan dia nggak pernah mau memberi tahu dia ada di mana), aku akhirnya bertemu dengan Papa di tahun 2011. Sepupuku Linda, anak tanteku (yang sekarang rumahnya aku tempati), menikah. Dan Papaku selama ini berada di Tarakan. Entah kenapa dia enggan memberi tahu soal keberadaannya padaku.

Saat bertemu, aku merasa canggung. Dia bukan Papaku yang dulu. Entahlah, padahal dulu setiap Papa pulang kerja dan beliau menonton TV kami (aku, Mbak Pessy dan Mama) berebut menaikkan kaki di pangkuannya meminta pijat. Dengan lantangnya aku teriakkan ini itu, minta beli sesuatu atau sekedar mengadu karena kakak laki-lakiku menggodaku, dan Papaku selalu menjawabnya dan membelaku. Tapi saat itu, di pertemuan kami setelah sekian lama, aku tidak bisa merasakan kehangatannya. Dibawanya aku pergi belanja di Ramayana, bukan itu Pa yang aku tunggu. Aku menunggu maafmu, penjelasanmu atas kepergianmu dan juga kata rindumu. Tapi tidak ada kata yang berarti hari itu, hingga ajal menjemputmu. Aku menyesalkan itu. 

Tahun 2013 aku mendapat kesempatan datang ke Tarakan lagi. Dua mingguan aku tinggal serumah dengan Papa dan keluarganya. Sungguh tidak nyaman, tapi aku bisa bertahan. Entah dua anaknya menganggapku apa, entah apa yang Papa dan istrinya jelaskan soalku pada mereka. Selama aku di Tarakan saat itu pun, tidak ada penjelasan apapun, tidak ada kata maaf.

Tahun 2014 Papa mulai sakit-sakitan. Awal November kalau nggak salah tanggal 9 adalah tanggal wisudaku. Di bulan Oktober aku dengar dari Tante bahwa Papa mau ke Surabaya buat berobat, aku mengharapkan kehadirannya di wisudaku karena aku nggak bisa berharap Papa untuk hadir di hari pernikahanku. Pertamanya dia bilang iya, dia bisa datang. Aku senang bukan main. Lantas beberapa hari kemudian dia bilang tidak mau menghadiri wisudaku. Aku tidak tahu dia diracuni apa oleh istrinya, tapi kenapa.. dia juga Papaku. Aku menangis sejadi-jadinya dan bertengkar dengan Papa di telepon. Bodohnya aku katakan bahwa aku tidak akan menikah gara-gara dia.

(Semalam tulisanku terhenti karena divideo-call oleh ponakan, terus mengantuk dan tidur. Macam adek adek ya habis mandi tidur hahaha. Ini aku lanjut di kantor, masih sambil dengerin lagu-lagu era 90an-00an. Dan barusan ada rombongan tamu check in, baru ngeh kalau ada Daus Mini dan pelawak yang kalau ngomong pakai logat Arab ente ana).

 Lanjut.

Ya, Papa tidak datang di wisudaku. Sebagai gantinya Mama ditemani Mbah Buk (Adik perempuannya Mama, beliau sudah meninggal 5 Januari kemarin. Aku panggil Mbah Buk karena ponakanku manggil beliau begitu, Mbah Ibuk, karena ponakan yang kedua sempat beberapa kali dirawat beliau). Papa hanya mengirimiku uang, bukan kehadirannya. Yah.. meski uangnya berguna untuk sewa vila di Songgoriti buat keluargaku menginap. (Yang kuliah di Malang dan mau wisudaan, daripada sewa hotel mending sewa vila di daerah Songgoriti, jauh lebih murah dan fasilitas lengkap. Kalau bisa cari vilanya sebulan sebelumnya. Dan berangkat ke acara wisuda lebih baik jam 6-an, jalanan masih sepi dan bebas macet).

Lanjut.

Desember 2014, dapat info dari Tante kalau Papa lagi di Surabaya buat berobat dan besok sudah kembali ke Tarakan. Papa nginap di rumah Bude Sri. Ya, rumah Oma yang penuh kenangan yang saat itu ditempati Bude dan Tante Naomi. Siang itu juga aku pergi dengan Mbak Pessy dan ketiga anaknya naik taksi, tanpa memberi tahu Mama dan Mas Topan (maaf, tidak memberitahumu Ma, Mas dikarenakan suatu alasan). Awalnya, Papa mengancam kabur kalau aku dan keluargaku diberitahu soal keberadaannya dan enggan menemui kami. Tapi pada akhirnya beliau mau nemuin kami juga bahkan sempat bercanda. Tapi sekali lagi, aku tidak bisa merasakan kehangatannya yang seperti dulu.
Dan satu hal yang membuatku sedih, Papa nampak kurus kerontang padahal terakhir bertemu badannya masih tinggi besar dan gemuk. Waktu itu dia terlihat sangat tua, kulitnya hitam legam, kulit mukanya mengendur karena perubahan berat badannya. Aku bisa melihat ruas-ruas tulang belikat dan tulang kakinya, dulu Papa gemuk sekali.

19 Maret 2014, dapat info Papa masuk ICU dengan kondisi kritis. Sabtunya, tanggal 21 Maret, Aku, Mama, Bude Sri dan Mbak Ken (sepupuku) berangkat ke Tarakan. Sampai Tarakan langsung pergi ke ICU RSU Tarakan, dan Papa sudah koma dari pagi. Badannya makin kurus. Tiga selang infus terpasang di badannya, dan dia bernafas dengan alat bantu. Sepupuku yang seorang perawat bilang, Papaku masih ada di dunia ini karena bantuan selang-selang tersebut, kalau selang itu dicabut Papa bakalan wassalam. Tapi entah apa yang aku pikirkan waktu itu, benar-benar kalut, bingung harus bagaimana. Jadinya hanya berbicara dalam hati dengan Papa yang saat itu entah dimana. Sempat ricuh juga karena istri Papa bilang ke Tante kalau kehadiran kami memperparah keadaan Papa. Tante marah dan bilang kepada kami kalau kita nggak usah pergi ke rumah sakit lagi.

21 Maret menjelang Maghrib Tante di telepon Om Bambang (Adiknya Papa, kakaknya Tante), kalau Papa sedang masa kritis. Kami semua akhirnya pergi ke rumah sakit lagi. Aku sama Mama duduk di ruang tunggu bareng tamu-tamu yang jenguk Papa karena istri Papa masih di dalam. Lalu si istri ijin mau sholat Maghrib dulu, aku sama Mama masuk ke dalam. Dan, entah bagaimana, ceritanya seperti di sinetron. Rencana Tuhan memang luar biasa. Setelah 10 menitan aku sama Mama di dalam, masing-masing berbicara di dalam hati membacakan doa atau sekedar mengajak Papa bicara, aku melihat setitik air mata di ujung mata Papaku dan dengan perlahan heart-rate Papa yang tertera di layar komputer menurun hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya, di depan mata kami. Aku menangis sejadinya.

Malam itu juga Papa dimakamkan, di Tarakan. Aku menangis tapi aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku sudah hancur sejak dulu sejak Papa pergi meninggalkan kami. Tapi aku ingin tahu apa yang kau tunggu saat itu, Pa? Kenapa menunggu kami? Dan kenapa kau menangis?

Friday, February 9, 2018

One Sided Love


One Sided Love.
Bukan judul film, judul lagu, atau judul album.
Tapi One Sided Love adalah judul komik. Komik serial cantik.

Beberapa hari yang lalu saya baca sebuah komik serial cantik non series (pastinya saya nebeng teman dan tidak membeli sendiri) berjudul One Sided Love. Dalam komik ini seingat saya ada 4 cerita yang berbeda.

Diantara komik-komik serial cantik yang pernah saya baca, hanya satu ini yang paling saya suka.

Ceritanya tentang seorang siswi yang bernama....Azusa. Dia anggota OSIS, karena itu dia mendapat tugas untuk menjaga perpustakaan. Hampir setiap hari ketika dia menjaga perpustakaan, dia selalu melihat anak cowok dengan piercing di telinganya duduk di tempat yang sama dan lebih sering menatap keluar jendela dengan mata sendu daripada buku yang dibawanya. Iwasaki namanya.

Azusa menjadi penasaran dan melihat keluar jendela di mana mata Iwasaki tertuju. Ternyata di bawah sana, tempat mata anak itu tertuju adalah sahabat Azusa yang sedang berlatih tennis.

Karena saking seringnya melihat Iwasaki yang selalu melihat keluar jendela dengan tatapan lembut itu, Azusa menjadi suka dengan Iwasaki. Tapi yang disukai Iwasaki adalah sahabatnya. Azusa pun menjadi kalut.

Tapi pada akhir cerita (ini yang sangat saya suka), ketika Azusa mengatakan bahwa cinta Iwasaki takkan pernah terbalas karena sahabatnya sudah mempunyai pacar. Tapi Iwasaki hanya menyuruh Azusa duduk di tempat Iwasaki biasa duduk dan menatap ke jendela sedangkan Iwasaki duduk di tempat Azusa biasanya duduk. Azusa terkejut, karena di kaca jendela tsb terpantul bayangan Iwasaki yang sedang duduk di tempat dia biasa duduk. Azusa tersadar, jika selama ini yang Iwasaki lihat adalah bayangan Azusa yang teerpantul di kaca jendela. Azusa pun menangis ........

Jika membaca komiknya langsung itu lebih bagus. Tapi aku tidak menemukan gambar adegan yang aku suka ketika Azusa duduk di tempat Iwasaki biasanya duduk -______-

A Short Trip To Nostalgic

      If I have money and some days off, I prefer go to somewhere than go home. No, it's not because I don't miss my home and my fa...