Aku menulis ini saat sore hari, tapi senja tidak sedang menemaniku karena diselimuti mendung. Tapi alhamdulillah jinggaku masih menyala, meski sempat ingin padam tertiup angin. Dan lagu Pelukis Malam-nya Nugie jadi temanku sore ini, lagu kesukaanmu.
Ya, berawal dari caption yang aku baca pada sebuah foto di instagram, masih tentang Dilan-Milea, dan entah kenapa ketika aku membacanya aku jadi tersenyum karena bayanganmu yang tiba-tiba muncul tanpa aku cari. Kata-katanya seperti berikut ini:
Ya, berawal dari caption yang aku baca pada sebuah foto di instagram, masih tentang Dilan-Milea, dan entah kenapa ketika aku membacanya aku jadi tersenyum karena bayanganmu yang tiba-tiba muncul tanpa aku cari. Kata-katanya seperti berikut ini:
Yang spesial, rasanya aku tidak pernah menyesal.
Menikmati masa-masa itu bersamamu.
Masa depan memang bukan milik kita,
tapi kabar baiknya,
aku tetap akan selalu setia mengenangmu di masa lalu.
Karena aku, adalah penggemar terberatmu.
Akan aku ceritakan cerita romansa yang mewarnai masa SMA ku dulu, tentang seseorang yang pernah aku cintai setengah meninggal, tentang hal-hal manis yang pernah terjadi dan kecemburuan-kecemburuan remaja yang aku harap tak pernah aku lakukan. Jadi seperti ini.
Awal semester satu saat aku duduk di bangku kelas X SMA, adalah pertama kali aku melihat wujudnya. Saat itu aku yang masih patah hati karena seorang laki-laki yang dulunya menyukaiku, kini pacaran dengan sahabatku. Aku menyebutnya dengan cinta pertama, karena itu adalah pertama kalinya aku menangisi laki-laki. Itu saat aku masih SMP. Tapi bukan dia yang ingin aku ceritakan sekarang ini, tapi si Ninja Hijau.
Sejak menginjak bangku SD sampai SMA, hingga bangku kuliah, aku bukan tipe siswi yang populer di sekolah. Aku tidak menarik (bukan jelek ya), karakterku biasa saja dan tidak terlalu menonjol, kurang suka bergaul dengan siswa siswi populer karena bakalan ribet ngumpul sana ngumpul sini, makan ongkos dan waktu. Bisa dibilang kuper (kurang pergaulan) karena aku orangnya nggak asik, malas menyapa kalau nggak kenal, malas kenalan dan sebagainya. Pokoknya aku tidak menarik, biasa saja, dan seperti bayangan yang terabaikan. Tapi sungguh, aku lebih nyaman begitu, jauh dari gosip dan tidak jadi bahan obrolan siswa siswi lainnya.
Dan, sudah semingguan aku mendengar desas desus ada kakak kelas keren nan ganteng rupawan yang naik motor Kawasaki Ninja warna hijau. Namanya Raden Raditya Dwi Kurniawan, panggilannya Radit. Dia kelas XII Bahasa. Kalau tidak salah aku mendengar pembicaraan itu dari Rizkha, Puji dan Anggi. Aku tidak terlalu berminat dengan cowok ganteng nan populer, karena saat itu aku masih kalut dengan cinta pertamaku yang ternyata satu SMA denganku, sedang sahabatku yaitu pacarnya sekolah di SMA lainnya. Sungguh, waktu itu aku tidak menggubris pembicaraan teman-temanku.
Namun di suatu pagi yang indah (indah karena akhirnya aku tahu wujudnya), tiga temanku itu heboh lantaran kakak kelas yang mereka bicarakan datang ke sekolah bareng Picha, entah P-cha atau siapa nama aslinya, lupa, yang notabene lebih populer karena kegantengannya yang maha ganteng dibanding si Ninja Hijau. Sebelumnya aku sudah tahu tentang Picha, dan iya memang ganteng, tapi tidak membuatku tertarik. Tertarik untuk mengidolakan dia seperti siswi siswi lainnya.
Masih pada kehebohan ketiga temanku itu, mereka akhirnya memanggilku dari luar kelas. Kelasku saat itu ada di lantai dua menghadap langsung ke lapangan dan gerbang sekolah, dan parkiran motor ada di bawah kelasku. Aku pun akhirnya turut keluar bersandar pada pagar dan mengedarkan pandanganku ke bawah, dan mataku langsung tertuju pada wujud satu manusia yang sedang menuntun motor warna hijau, warna paling eye catchy, di antara manusia-manusia lainnya yang sedang menuntun motornya. KBM sudah berjalan sekitar 4 bulanan dan aku baru pertama kali melihat sosok ini. Kelihatan banget kan aku cueknya gimana.
Di sekolahku ada peraturan, siswa siswi yang bawa motor dianjurkan menuntun motornya dari gerbang sekolah sampai parkiran dikarenakan tempat parkir dekat dengan ruang kelas, biar nggak bising. Tapi dengan begitu, aku bisa menikmati keindahan laki-laki itu dalam waktu yang cukup lama. Iya, di antara puluhan siswa siswi yang berjalan, berlari atau sedang menuntun motor, mataku tertuju pada satu wujud yang tersenyum dengan senyuman paling indah di pagi itu, di antara semuanya. Dia yang paling indah pagi itu, matahari kalah. Cinta pertamaku kalah. Dan pandanganku benar-benar tak lepas dari wujudnya sampai dia hilang ditelan dinding ruang kelasnya.
Akan aku beri sedikit penggambaran mengenai sekolahku. Sekolahku tidak terlalu luas, hanya mempunyai satu lapangan yang punya banyak fungsi, salah satunya jadi tempat parkir. Dan sekolahku berbentuk persegi panjang dan di tengah-tengahnya adalah lapangan itu, jadi setiap kelas menghadap langsung ke lapangan. Jika kelasku menghadap ke gerbang sekolah yaitu menghadap ke selatan, maka kelas kakak ini berada di sebelah kanan kelasku dan mengahadap ke timur, kelasnya juga ada di lantai dua. Jika dia mau ke kantin atau kamar mandi yang ada di bawah, dia bisa belok kanan jauh dari pandanganku atau belok kiri melewati kelasku. Terserah dia sih mau lewat mana hahaha.
Daaan.. sejak hari itu aku memutuskan bahwa diriku adalah penggemarmu, penggemar terberatmu. Kenapa terberat? Karena aku sudah melewati batas kewarasanku dalam menyukai seseorang. Aku yang biasanya mengagumi seseorang dalam diam, kini aku ada pergerakan. Apapun caranya akan aku lakukan untuk bisa dekat denganmu. Jujur, aku tidak ada niatan untuk bisa pacaran denganmu kala itu apalagi bisa dekat denganmu sebagai teman, karena aku tahu diri dan tidak ingin bermimpi. Lagipula aku sedang sibuk meratapi cinta pertamaku. Niatku hanya ingin dekat denganmu sebagai penggemarmu. Seperti yang Rizkha lakukan, entah dari mana dia bisa mendapat nomor ponsel kakak kelas idolanya dan sekedar ber-sms-an saja saat itu, tidak ada niatan apapun.
Lalu aku? Aku enggan mencari nomor ponselmu. Bagiku, hanya dengan mengagumimu dari jauh saat itu sudah cukup bagiku. Awalnya ya.. beneran aku enggan mencari berita tentang dirimu karena tidak ada keberanian dan enggan menjadi bahan olokan bahwa aku sedang mengagumi seseorang. Saat itu aku orangnya tertutup sekali dan cuek, aku hanya terbuka pada beberapa teman dekat, yang waktu itu adalah Puji dan Mitha, juga Rizkha. Aku tidak ingin dia tahu bahwa ada adik kelasmu yang mengagumi dirimu. Tapi pada akhirnya, aku melakukan sebuah pergerakan. Akhirnya aku bertukar pesan via email denganmu, dalam sebuah penyamaran, seperti yang Puji lakukan. Puji panutanku hahaha.
Jadi aku membuat sebuah email yahoo (gmail belum terkenal), sebut saja emailku saat itu gibols_pippo@yahoo(dot)com. Gibol adalah singkatan dari Gila Bola dan juga nama gengku saat SMP (di mana sahabat se-geng-ku pacaran dengan cinta pertamaku), dan Pippo adalah nama panggilan Filippo Inzaghi, pemain sepak bola favoritku. Dan entah dari mana aku mendapat alamat email mu, aku lupa. Apa dari Puji yang nanya sama idolanya ya? Aku lupa. Tapi aku masih ingat alamat email mu sampai sekarang: ninjaijoney**n@yahoo.com :))
Dan dengan segala keberanian dan kebodohan yang aku punya, aku pura-pura salah kirim email ke alamat email-nya (bonek hahahahahaha). Lalu beralih menjadi sebuah perkenalan: kenalkan, namaku Laras (kalau tidak salah aku mengaku begitu) kuliah semester satu di Trisakti. Tadinya mau kirim email ke teman, kok salah kirim. Dan pada saat itu akses email sangat terbatas. Belum ada smartphone, jaringan internet masih sebatas di komputer, kalau mau akses internet ya harus ke warnet atau kalau mau gratis ya di lab komputer sekolah. Jadi email bisa dibalas saat pergi ke warnet atau lab komputer pada saat pulang sekolah, atau pada saat pelajaran komputer itu sendiri. Dan itu membutuhkan waktu berhari-hari untuk menerima balasan email darinya. Kalau kata Dilan, resiko mencintaimu. Eh mengagumimu hahaha.
Lalu di sekolah, pada saat pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer, di mana laboratoriumnya merupakan tempat favoritku di sekolah), kami dibuatkan email sekolah oleh Pak Sukari, guru TIK ku. Dan seluruh siswa di sekolah itu dibuatkan email, bahkan semua guru dan kepala sekolah. Dari situlah bencana datang. Dia menemukanku.
Iya, dengan bodohnya email yahoo dan email sekolahku alamat depannya sama. Sama-sama gibols_pippo cuma beda huruf S-nya doang. Beneran ini nggak disengaja, karena aku tidak tahu harus pakai nama apaan untuk email sekolah. Kata Pak Sukari bebas, dan akunya juga nggak mau ribet dan nggak mau mikir lagi jadi aku pakai nama gibol_pippo. Dan aku tidak tahu bahwa setiap penduduk di sekolah ini bisa searching dan melihat daftar email penduduk sekolah lainnya. Lalu saat pelajaran TIK, kami disuruh mengecek email sekolah masing-masing dan diutus untuk mengirim jawaban tugas ke email Pak Sukari. Pada saat itu aku melihat ada 1 pesan di inbox dan aku buka pesan itu. Allahuakbar.... darahku langsung turun ke kaki, badan jadi dingin dan gemetaran.
Awal semester satu saat aku duduk di bangku kelas X SMA, adalah pertama kali aku melihat wujudnya. Saat itu aku yang masih patah hati karena seorang laki-laki yang dulunya menyukaiku, kini pacaran dengan sahabatku. Aku menyebutnya dengan cinta pertama, karena itu adalah pertama kalinya aku menangisi laki-laki. Itu saat aku masih SMP. Tapi bukan dia yang ingin aku ceritakan sekarang ini, tapi si Ninja Hijau.
Sejak menginjak bangku SD sampai SMA, hingga bangku kuliah, aku bukan tipe siswi yang populer di sekolah. Aku tidak menarik (bukan jelek ya), karakterku biasa saja dan tidak terlalu menonjol, kurang suka bergaul dengan siswa siswi populer karena bakalan ribet ngumpul sana ngumpul sini, makan ongkos dan waktu. Bisa dibilang kuper (kurang pergaulan) karena aku orangnya nggak asik, malas menyapa kalau nggak kenal, malas kenalan dan sebagainya. Pokoknya aku tidak menarik, biasa saja, dan seperti bayangan yang terabaikan. Tapi sungguh, aku lebih nyaman begitu, jauh dari gosip dan tidak jadi bahan obrolan siswa siswi lainnya.
Dan, sudah semingguan aku mendengar desas desus ada kakak kelas keren nan ganteng rupawan yang naik motor Kawasaki Ninja warna hijau. Namanya Raden Raditya Dwi Kurniawan, panggilannya Radit. Dia kelas XII Bahasa. Kalau tidak salah aku mendengar pembicaraan itu dari Rizkha, Puji dan Anggi. Aku tidak terlalu berminat dengan cowok ganteng nan populer, karena saat itu aku masih kalut dengan cinta pertamaku yang ternyata satu SMA denganku, sedang sahabatku yaitu pacarnya sekolah di SMA lainnya. Sungguh, waktu itu aku tidak menggubris pembicaraan teman-temanku.
Namun di suatu pagi yang indah (indah karena akhirnya aku tahu wujudnya), tiga temanku itu heboh lantaran kakak kelas yang mereka bicarakan datang ke sekolah bareng Picha, entah P-cha atau siapa nama aslinya, lupa, yang notabene lebih populer karena kegantengannya yang maha ganteng dibanding si Ninja Hijau. Sebelumnya aku sudah tahu tentang Picha, dan iya memang ganteng, tapi tidak membuatku tertarik. Tertarik untuk mengidolakan dia seperti siswi siswi lainnya.
Masih pada kehebohan ketiga temanku itu, mereka akhirnya memanggilku dari luar kelas. Kelasku saat itu ada di lantai dua menghadap langsung ke lapangan dan gerbang sekolah, dan parkiran motor ada di bawah kelasku. Aku pun akhirnya turut keluar bersandar pada pagar dan mengedarkan pandanganku ke bawah, dan mataku langsung tertuju pada wujud satu manusia yang sedang menuntun motor warna hijau, warna paling eye catchy, di antara manusia-manusia lainnya yang sedang menuntun motornya. KBM sudah berjalan sekitar 4 bulanan dan aku baru pertama kali melihat sosok ini. Kelihatan banget kan aku cueknya gimana.
Di sekolahku ada peraturan, siswa siswi yang bawa motor dianjurkan menuntun motornya dari gerbang sekolah sampai parkiran dikarenakan tempat parkir dekat dengan ruang kelas, biar nggak bising. Tapi dengan begitu, aku bisa menikmati keindahan laki-laki itu dalam waktu yang cukup lama. Iya, di antara puluhan siswa siswi yang berjalan, berlari atau sedang menuntun motor, mataku tertuju pada satu wujud yang tersenyum dengan senyuman paling indah di pagi itu, di antara semuanya. Dia yang paling indah pagi itu, matahari kalah. Cinta pertamaku kalah. Dan pandanganku benar-benar tak lepas dari wujudnya sampai dia hilang ditelan dinding ruang kelasnya.
Akan aku beri sedikit penggambaran mengenai sekolahku. Sekolahku tidak terlalu luas, hanya mempunyai satu lapangan yang punya banyak fungsi, salah satunya jadi tempat parkir. Dan sekolahku berbentuk persegi panjang dan di tengah-tengahnya adalah lapangan itu, jadi setiap kelas menghadap langsung ke lapangan. Jika kelasku menghadap ke gerbang sekolah yaitu menghadap ke selatan, maka kelas kakak ini berada di sebelah kanan kelasku dan mengahadap ke timur, kelasnya juga ada di lantai dua. Jika dia mau ke kantin atau kamar mandi yang ada di bawah, dia bisa belok kanan jauh dari pandanganku atau belok kiri melewati kelasku. Terserah dia sih mau lewat mana hahaha.
Daaan.. sejak hari itu aku memutuskan bahwa diriku adalah penggemarmu, penggemar terberatmu. Kenapa terberat? Karena aku sudah melewati batas kewarasanku dalam menyukai seseorang. Aku yang biasanya mengagumi seseorang dalam diam, kini aku ada pergerakan. Apapun caranya akan aku lakukan untuk bisa dekat denganmu. Jujur, aku tidak ada niatan untuk bisa pacaran denganmu kala itu apalagi bisa dekat denganmu sebagai teman, karena aku tahu diri dan tidak ingin bermimpi. Lagipula aku sedang sibuk meratapi cinta pertamaku. Niatku hanya ingin dekat denganmu sebagai penggemarmu. Seperti yang Rizkha lakukan, entah dari mana dia bisa mendapat nomor ponsel kakak kelas idolanya dan sekedar ber-sms-an saja saat itu, tidak ada niatan apapun.
Lalu aku? Aku enggan mencari nomor ponselmu. Bagiku, hanya dengan mengagumimu dari jauh saat itu sudah cukup bagiku. Awalnya ya.. beneran aku enggan mencari berita tentang dirimu karena tidak ada keberanian dan enggan menjadi bahan olokan bahwa aku sedang mengagumi seseorang. Saat itu aku orangnya tertutup sekali dan cuek, aku hanya terbuka pada beberapa teman dekat, yang waktu itu adalah Puji dan Mitha, juga Rizkha. Aku tidak ingin dia tahu bahwa ada adik kelasmu yang mengagumi dirimu. Tapi pada akhirnya, aku melakukan sebuah pergerakan. Akhirnya aku bertukar pesan via email denganmu, dalam sebuah penyamaran, seperti yang Puji lakukan. Puji panutanku hahaha.
Jadi aku membuat sebuah email yahoo (gmail belum terkenal), sebut saja emailku saat itu gibols_pippo@yahoo(dot)com. Gibol adalah singkatan dari Gila Bola dan juga nama gengku saat SMP (di mana sahabat se-geng-ku pacaran dengan cinta pertamaku), dan Pippo adalah nama panggilan Filippo Inzaghi, pemain sepak bola favoritku. Dan entah dari mana aku mendapat alamat email mu, aku lupa. Apa dari Puji yang nanya sama idolanya ya? Aku lupa. Tapi aku masih ingat alamat email mu sampai sekarang: ninjaijoney**n@yahoo.com :))
Dan dengan segala keberanian dan kebodohan yang aku punya, aku pura-pura salah kirim email ke alamat email-nya (bonek hahahahahaha). Lalu beralih menjadi sebuah perkenalan: kenalkan, namaku Laras (kalau tidak salah aku mengaku begitu) kuliah semester satu di Trisakti. Tadinya mau kirim email ke teman, kok salah kirim. Dan pada saat itu akses email sangat terbatas. Belum ada smartphone, jaringan internet masih sebatas di komputer, kalau mau akses internet ya harus ke warnet atau kalau mau gratis ya di lab komputer sekolah. Jadi email bisa dibalas saat pergi ke warnet atau lab komputer pada saat pulang sekolah, atau pada saat pelajaran komputer itu sendiri. Dan itu membutuhkan waktu berhari-hari untuk menerima balasan email darinya. Kalau kata Dilan, resiko mencintaimu. Eh mengagumimu hahaha.
Lalu di sekolah, pada saat pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer, di mana laboratoriumnya merupakan tempat favoritku di sekolah), kami dibuatkan email sekolah oleh Pak Sukari, guru TIK ku. Dan seluruh siswa di sekolah itu dibuatkan email, bahkan semua guru dan kepala sekolah. Dari situlah bencana datang. Dia menemukanku.
Iya, dengan bodohnya email yahoo dan email sekolahku alamat depannya sama. Sama-sama gibols_pippo cuma beda huruf S-nya doang. Beneran ini nggak disengaja, karena aku tidak tahu harus pakai nama apaan untuk email sekolah. Kata Pak Sukari bebas, dan akunya juga nggak mau ribet dan nggak mau mikir lagi jadi aku pakai nama gibol_pippo. Dan aku tidak tahu bahwa setiap penduduk di sekolah ini bisa searching dan melihat daftar email penduduk sekolah lainnya. Lalu saat pelajaran TIK, kami disuruh mengecek email sekolah masing-masing dan diutus untuk mengirim jawaban tugas ke email Pak Sukari. Pada saat itu aku melihat ada 1 pesan di inbox dan aku buka pesan itu. Allahuakbar.... darahku langsung turun ke kaki, badan jadi dingin dan gemetaran.
"Laras? Kamu yang kirim di email yahoo kan?"
"Kamu anak sekolah ini juga? Namamu Lini? Kelas berapa?"
Jedieerr!!! Serasa halilintar menyambar di siang bolong. Kepalaku mau pecah. Pandangan berkunang-kunang, kakiku lemas, perut mules. Mau mati, mau nangis, mau sembunyi. Malu. Sudah ketahuan.
- to be continue. Sudah, saya mau tidur dulu. Besok kerja pagi. Mau tidur sambil senyum dulu karena baca email mu di tahun 2009. Selamat malam.
Ini link caption instagram yang saya kutip: https://www.instagram.com/p/BfU8hbmAsXZ/
No comments:
Post a Comment