Saturday, February 10, 2018

Bertemu Papa


Halo. Lama nggak bersua. Aku habis mandi dan lagi dengerin lagu era 90a-00an. Gara gara habis baca novel Dilan entah kenapa jadi ingat blog ini dan seluruh kenangannya, dan pengen dengerin lagu-lagu lama. Jadinya menyusup lagi dan edit edit sedikit. Lalu ingin aktif nulis lagi.

Sekarang aku di Tarakan, Kalimantan Utara, pulau kecil yang kalau melihat di peta, mata kita harus melotot. Dan baru tau juga ternyata Tarakan berada paling atas wilayah Indonesia saat aku melihatnya di google maps, saat sudah setahunan tinggal di Tarakan, posisinya lebih tinggi daripada Manado. Dan aku di sini sudah hampir 3 tahun, masih terikat masa lalu dan semakin kalut dengan masa depan.

Aku berencana berada di Tarakan untuk 5 tahun. Sebagaimana aku pernah di Malang untuk 5 tahun juga. Disini numpang tinggal di rumah Tante, adiknya Papa. Ya, sebulan setelah meninggalnya Papa aku pergi ke Tarakan untuk mencari kerja. Karena kesulitan mencari kerja di Jawa dengan keadaan belum ada pengalaman. Aku di Tarakan bekerja di sebuah hotel yang cukup terkenal, hotel tua tapi sebenernya interiornya lumayan bagus dibanding hotel lain. Review oleh customer di internet juga lumayan. Entah kenapa, padahal aku bukan pemilik hotel, aku merasa sedikit bangga. Tapi tidak pada sistem manajemennya. Buruk. Tidak adil. Penipu.

Apa yang ingin aku ceritakan disini adalah hal hal yang telah terlewati sejak postingan terakhirku. Apa saja yang terjadi, apakah aku berubah, juga sedikit kilas balik masa lalu yang belum pernah aku ceritakan, tentang waktu yang telah aku habiskan dengan beberapa lelaki, tentang bagaimana aku akhirnya bisa bertemu Papa setelah bertahun-tahun dia menghilang hingga akhirnya Ia benar benar lenyap dari bumi, di depan mataku. Jadi yang mana dulu? Soal Papa aja kali ya?


                                                                           ****


Ya, setelah Papa benar-benar pergi di tahun 2004 (di tahun 2003 beliau sudah jarang pulang), selama tujuh tahun berpisah dan nggak tau dia ada di mana, nggak tahu seperti apa wujudnya saat itu (waktu itu komunikasi sebatas telpon dan sms belum ada video call dan dia nggak pernah mau memberi tahu dia ada di mana), aku akhirnya bertemu dengan Papa di tahun 2011. Sepupuku Linda, anak tanteku (yang sekarang rumahnya aku tempati), menikah. Dan Papaku selama ini berada di Tarakan. Entah kenapa dia enggan memberi tahu soal keberadaannya padaku.

Saat bertemu, aku merasa canggung. Dia bukan Papaku yang dulu. Entahlah, padahal dulu setiap Papa pulang kerja dan beliau menonton TV kami (aku, Mbak Pessy dan Mama) berebut menaikkan kaki di pangkuannya meminta pijat. Dengan lantangnya aku teriakkan ini itu, minta beli sesuatu atau sekedar mengadu karena kakak laki-lakiku menggodaku, dan Papaku selalu menjawabnya dan membelaku. Tapi saat itu, di pertemuan kami setelah sekian lama, aku tidak bisa merasakan kehangatannya. Dibawanya aku pergi belanja di Ramayana, bukan itu Pa yang aku tunggu. Aku menunggu maafmu, penjelasanmu atas kepergianmu dan juga kata rindumu. Tapi tidak ada kata yang berarti hari itu, hingga ajal menjemputmu. Aku menyesalkan itu. 

Tahun 2013 aku mendapat kesempatan datang ke Tarakan lagi. Dua mingguan aku tinggal serumah dengan Papa dan keluarganya. Sungguh tidak nyaman, tapi aku bisa bertahan. Entah dua anaknya menganggapku apa, entah apa yang Papa dan istrinya jelaskan soalku pada mereka. Selama aku di Tarakan saat itu pun, tidak ada penjelasan apapun, tidak ada kata maaf.

Tahun 2014 Papa mulai sakit-sakitan. Awal November kalau nggak salah tanggal 9 adalah tanggal wisudaku. Di bulan Oktober aku dengar dari Tante bahwa Papa mau ke Surabaya buat berobat, aku mengharapkan kehadirannya di wisudaku karena aku nggak bisa berharap Papa untuk hadir di hari pernikahanku. Pertamanya dia bilang iya, dia bisa datang. Aku senang bukan main. Lantas beberapa hari kemudian dia bilang tidak mau menghadiri wisudaku. Aku tidak tahu dia diracuni apa oleh istrinya, tapi kenapa.. dia juga Papaku. Aku menangis sejadi-jadinya dan bertengkar dengan Papa di telepon. Bodohnya aku katakan bahwa aku tidak akan menikah gara-gara dia.

(Semalam tulisanku terhenti karena divideo-call oleh ponakan, terus mengantuk dan tidur. Macam adek adek ya habis mandi tidur hahaha. Ini aku lanjut di kantor, masih sambil dengerin lagu-lagu era 90an-00an. Dan barusan ada rombongan tamu check in, baru ngeh kalau ada Daus Mini dan pelawak yang kalau ngomong pakai logat Arab ente ana).

 Lanjut.

Ya, Papa tidak datang di wisudaku. Sebagai gantinya Mama ditemani Mbah Buk (Adik perempuannya Mama, beliau sudah meninggal 5 Januari kemarin. Aku panggil Mbah Buk karena ponakanku manggil beliau begitu, Mbah Ibuk, karena ponakan yang kedua sempat beberapa kali dirawat beliau). Papa hanya mengirimiku uang, bukan kehadirannya. Yah.. meski uangnya berguna untuk sewa vila di Songgoriti buat keluargaku menginap. (Yang kuliah di Malang dan mau wisudaan, daripada sewa hotel mending sewa vila di daerah Songgoriti, jauh lebih murah dan fasilitas lengkap. Kalau bisa cari vilanya sebulan sebelumnya. Dan berangkat ke acara wisuda lebih baik jam 6-an, jalanan masih sepi dan bebas macet).

Lanjut.

Desember 2014, dapat info dari Tante kalau Papa lagi di Surabaya buat berobat dan besok sudah kembali ke Tarakan. Papa nginap di rumah Bude Sri. Ya, rumah Oma yang penuh kenangan yang saat itu ditempati Bude dan Tante Naomi. Siang itu juga aku pergi dengan Mbak Pessy dan ketiga anaknya naik taksi, tanpa memberi tahu Mama dan Mas Topan (maaf, tidak memberitahumu Ma, Mas dikarenakan suatu alasan). Awalnya, Papa mengancam kabur kalau aku dan keluargaku diberitahu soal keberadaannya dan enggan menemui kami. Tapi pada akhirnya beliau mau nemuin kami juga bahkan sempat bercanda. Tapi sekali lagi, aku tidak bisa merasakan kehangatannya yang seperti dulu.
Dan satu hal yang membuatku sedih, Papa nampak kurus kerontang padahal terakhir bertemu badannya masih tinggi besar dan gemuk. Waktu itu dia terlihat sangat tua, kulitnya hitam legam, kulit mukanya mengendur karena perubahan berat badannya. Aku bisa melihat ruas-ruas tulang belikat dan tulang kakinya, dulu Papa gemuk sekali.

19 Maret 2014, dapat info Papa masuk ICU dengan kondisi kritis. Sabtunya, tanggal 21 Maret, Aku, Mama, Bude Sri dan Mbak Ken (sepupuku) berangkat ke Tarakan. Sampai Tarakan langsung pergi ke ICU RSU Tarakan, dan Papa sudah koma dari pagi. Badannya makin kurus. Tiga selang infus terpasang di badannya, dan dia bernafas dengan alat bantu. Sepupuku yang seorang perawat bilang, Papaku masih ada di dunia ini karena bantuan selang-selang tersebut, kalau selang itu dicabut Papa bakalan wassalam. Tapi entah apa yang aku pikirkan waktu itu, benar-benar kalut, bingung harus bagaimana. Jadinya hanya berbicara dalam hati dengan Papa yang saat itu entah dimana. Sempat ricuh juga karena istri Papa bilang ke Tante kalau kehadiran kami memperparah keadaan Papa. Tante marah dan bilang kepada kami kalau kita nggak usah pergi ke rumah sakit lagi.

21 Maret menjelang Maghrib Tante di telepon Om Bambang (Adiknya Papa, kakaknya Tante), kalau Papa sedang masa kritis. Kami semua akhirnya pergi ke rumah sakit lagi. Aku sama Mama duduk di ruang tunggu bareng tamu-tamu yang jenguk Papa karena istri Papa masih di dalam. Lalu si istri ijin mau sholat Maghrib dulu, aku sama Mama masuk ke dalam. Dan, entah bagaimana, ceritanya seperti di sinetron. Rencana Tuhan memang luar biasa. Setelah 10 menitan aku sama Mama di dalam, masing-masing berbicara di dalam hati membacakan doa atau sekedar mengajak Papa bicara, aku melihat setitik air mata di ujung mata Papaku dan dengan perlahan heart-rate Papa yang tertera di layar komputer menurun hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya, di depan mata kami. Aku menangis sejadinya.

Malam itu juga Papa dimakamkan, di Tarakan. Aku menangis tapi aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku sudah hancur sejak dulu sejak Papa pergi meninggalkan kami. Tapi aku ingin tahu apa yang kau tunggu saat itu, Pa? Kenapa menunggu kami? Dan kenapa kau menangis?

No comments:

A Short Trip To Nostalgic

      If I have money and some days off, I prefer go to somewhere than go home. No, it's not because I don't miss my home and my fa...